Dahulu kala ada seorang lelaki tua yang tinggal di Gunung Penanggungan. Namanya adalah Kiai Gede Penanggungan.

Ia dikenal sebagai orang yang sakti dan memiliki kekuatan gaib. Kiai Gede Penanggungan juga memiliki seorang putri yang cantik.

Namanya adalah Dewi Walangangin. Walau sangat cantik, namun ia belum menikah. Itu sebabnya Kiai Gede Penanggungan berdoa siang dan malam untuk putrinya. Akhirnya, Tuhan Menjawab doanya, seorang pria muda dan tampan datang ke tempatnya.

“Aku akan mengangkatmu sebagai muridku tetapi kamu harus menikahi putriku. Setuju?” jawab Kiai Gede.

Jaka menghela nafas panjang. Lalu ia berkata “Ya, saya setuju. Saya akan menikahi putri Anda. ”Baik Dewi Walangangin dan Jaka Pandelegan menjalani pernikahan yang bahagia. Terutama Jaka, dia bahkan lebih bahagia.

Kiai Gede Penanggungan mengajarinya banyak hal. Setelah beberapa tahun tinggal bersama Kiai Gede Penanggungan, kini saatnya pasangan itu meninggalkan gunung Penanggungan dan menemukan kehidupan baru sebagai suami istri.

“Aku tahu kalian tidak bisa tinggal bersamaku selama-lamanya. Sebelum kalian pergi, ambil benih padi (pari) ini. Setiap kali orang meminta kepada Anda, berikan beberapa. Jangan sombong jika kami sudah menjadi orang kamu kaya.” Pesan Kiai Gede kepada Anak dan Menantunya.

Jaka Pandelegan dan Dewi Walangangin pun berjanji akan mentaati pesan dari ayah mereka. Setelah itu, pasangan itu meninggalkannya dan membawa biji pari atau beras.

Kemudian, di tempat baru, mereka menanam benih. Segera, tumbuh banyak pohon padi yang menghasilkan beras yang snagat banyak.

Sekarang pasangan itu menjadi sangat kaya. Tetangga miskin datang kepada pasangan itu untuk meminta benih pari.

“Tidak boleh! Jika kamu ingin makan, kamu harus bekerja keras seperti saya! “Kata Jaka Pandelegan.

Lama kelamaan Kiai Gede Penanggungan mendengar kelakuan buruk anak dan menantunya. Jadi, ia memutuskan untuk mengunjunginya.

Ia ingin mengingatkannya tentang janjinya. Kiai Gede Penanggungan segera memanggil nama mereka ketika dia tiba di sawah.

“Jaka Pandelegan, kemarilah! Saya ingin berbicara dengan kamu.” Tapi Jaka mengabaikannya. Dia terus melakukan aktivitasnya.

“Putriku, Dewi. Ini aku, ayahmu.” Tapi Dewi juga mengabaikannya. Kiai Gede Penanggungan benar-benar marah.

Dia kemudian berkata, “Kalian berdua seperti Candi. Kalian tidak bisa mendengarkan saya.”

Tepat setelah dia mengucapkan kata-kata itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Perlahan, Jaka dan Dewi berubah menjadi Candi. Karena candi berdiri di antara padi (pari), orang kemudian menamainya sebagai Candi Pari (Padi).

Dari sini kita bisa mendapatkan pesan moral tentang kita sebagai manusia tidak boleh menjadi orang yang sombong.

Apalagi jika kita memiliki kelebihan. Bantulan mereka yang lebih kurang mampu dan tanamlah benih karma yang baik.

Selain itu, selalu ingatlah apa nasehat orang tua karena hal itu pasti akan sangat berguna untuk kalian dan kalian harus selalu mengingat nasehat mereka.

Jika kalian memiliki kelebihan dan kalian sombong, hal ini lama kelamaan hanya akan mengakibatkan kerugian di masa yang akan datang.

Karena itulah, taka da gunanya bersombong apalagi mengingat semua kekayaan yang kita dimiliki hanyalah titipan Tuhan belaka.

Nantinya, yang akan kita bawa hanyalah karma – karma yang sudah kita lakukan selama kita masih hidup di dunia. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang ingin tahu lebih banyak mengenai berbagai legenda di Indonesia.