Kalimantan Selatan memiliki sebuah kisah melegenda, yang masuk menjadi Cerita Rakyat Putri Junjung Buih. Dalam cerita rakyat ini mengisahkan Poetrie Djoendjoeng Boeih, yang mengangkat seorang putri selama dirinya bertapa di sebuah gua. Ketika berada didalam hutan Kalimantan dirinya menemukan seorang anak perempuan yang sudah terbaring di pinggir sebuah danau. Namun anak ini tidak menangis dan tidak diketahui sudah berapa lama berada disana.

Cerita Rakyat Putri Junjung Buih

Sehingga anak perempuan tersebut diberikan nama Putri Junjung Buih, dengan kesempatan besar dikerajaan dirinya mengembangkan ilmu bela diri. Hingga pada usia 17 tahun anak tersebut berubah menjadi sosok perempuan sangat cantik. Di Kerajaan Kalimantan Selatan hanya dirinya lah yang memiliki paras wajah tercantik, hingga membuat anggota keluarga kerajaan lainnya menjadi iri. Sehingga mereka menjadi benci kemudian melakukan perencanaan jahat untuk menghabisi nyawanya.

Cerita Rakyat Putri Junjung Buih Kalimantan Selatan

Pada usia ke-20 Junjung Buih naik tahta menjadi ratu setelah menikah dengan Pangeran Suryanata dari Majapahit. Namun Pangeran tersebut memiliki banyak sekali selir, Ratu Junjung Buih menjadi kesayangan Suryanata sampai tidak pernah datang mengunjungi selir lainnya. Para selir menjadi marah, dan membuat jebakan dengan membuat minuman keras sehingga Junjung Buih tidak sadarkan diri, seorang panglima masuk dan melakukan aksinya.

Cerita Rakyat Putri Junjung Buih

Ketika Pangeran Suryanata masuk kedalam istana kediaman Ratu Junjung Buih, kemudian Suryanata menjadi sangat marah. Dan akan menghukum mati Ratu Junjung Buih, di sebuah sungai berbuih disekitar istana. Setelah menjelaskan kalau dirinya sedang dijebak, namun pangeran sudah sangat marah dan tetap melanjutkan eksekusi. Kemudian Ratu Junjung Buih terbunuh di suangai tersebut, dimana ternyata sungai itu menjadi tempat ditemukan dirinya ketika masih kecil.

Setelah beberapa hari tewas ditenggelamkan didalam sungai tesebut, konon beberapa minggu setelah kerjadian eksekusi tersebut. Beberapa warga yang berjalan – jalan dan mencuci pakaian disana tenggelam dan hilang tanpa jejak. Dan setiap malam disana terdengar suara hewan seperti kuda, dimana tampak juga dari jarak jauh seperti wanita sedang menunggangi kuda tersebut diatas sungai. Hingga sekarang sungai tersebut diberikan nama oleh penduduk Banjar dengan sebutan Junjung Buih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *