Tahukah kalian, pada masa kerajaan Sunda tepat dimana zamannya Prabu Siliwangi yang telah membantu rakyatnya pada masa itu dan membebaskan hampir segala kesulitan para rakyatnya. Seperti membebaskan pajak dan mementingkan kehidupan sosial diatas segalanya.

Siliwangi berasal dari Silih dan Wangi yang artinya menggantikan prabu siliwangi. Orang sunda menganggap bahwa Prabu yang hilang telah menjadi Sri Baduga yang merupakan sebagai penggantinya.

Pengembara yang tangkas dan pemberani ini tinggal bersama putri dan istrinya di desa Kedaton yang sekarang telah menjadi kecamatan Cirebon.

Sri Baduga menggantikan penguasaan Kerajaan Sing Apura yang berbatasan langsung dengan Pelabuhan Muarajati Cirebon a.

Awal kemunculan dari gelar Prabu Wangi adalah sebagai bentuk jasa untuk mengingat kesabaran dengan diberikan gelar tersebut kepada buyutnya yang telah gugur di Bubat.

Bahkan waktu memperebutkan seorang putri ia telah mengalahkan Ratu Kerajaan Japura pada saat itu dan penguasa Cirebon Girang yaitu Prabu Bunisora serta penguasa Kerajaan Sing Apura yang sekarang dikuasai oleh Sri Baduga.

Raden Kian Santang dan Istrinya yang telah melahirkan Cakrabuwana. Kemudian, putri dari pangeran Cakrabuwana menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Dan sebagai Sultan Cirebon I telah diangkat Walangsungsang dan Istrinya yang diangkat sebagai Sultan Cirebon II pada saat itu di sekitar tahun 1429 an masehi.

Singkat cerita, Kerajaan Sumedang Larang yang menerima Mahkota Binokasih merupakan tanda sebagai penerus Kerajaan Pajajaran pada saat itu.

 

Kebijakan Sri Baduga dalam kehidupan sosial adalah dengan memerintah pada para petugas agar tidak memungut bea. Karena, bea selalu berbakti dan mengamalkan peraturan dewa.

Dan Sri Baduga dengan tegas membebaskan rakyat dayeuh dari 4 macam pajak yaitu, pajak tenaga kolektif, pajak tenaga perorangan, padi 1 gotongan, dan kapas timbang. Jadi sebagai upeti ke Pakuan tiap tahunnya tidak kenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan penguasa setempat.

Nah, untuk padi-padi yang tumbuh terlambat serta ladang yang ditinggalkan oleh para petani akan menjadi hak para penguasa setempat.

Alat pikul yang harus selalu digotong dan berbentuk seperti tempat tidur dinamakan Dondang yang dipakai untuk membawa barang antaran atau arak-arakan.

Tugas yang benar-benar harus dillaksanakn disana adalah seperti berburu, memelihara saluran air, menangkap ikan, ataupun petani di ladang kerjaan yang hasilnya digunakan untuk upacara bersama.

Sistem ini terus berlanjut hingga setelah zaman kerajaan dan Belanda telah menggunakan sistem ini untuk rodi. Kemudian sistem paksa ini memaksakan untuk mengubah desa menjadi tanah penguasa dan dinas umum yang tidak diberikan imbalan apa-apa.

Dan ada juga yang diberikan imbalan serta makan, akan tetapi sistem ini berupa tanam paksa yang memanfaatkan tradisi.

Kemudian, ada sangsi untuk mereka yang tidak membayar pajak dan hal ini berlaku untuk desa di akhir abad 19. Dan bentuk ini terus berlangsung bahkan di desa ada kewajiban bekerja di sawah bengkok.

Jadi gotong royong tradisional disini adalah bekerja untuk kepala desa dan hal ini mereka bekerja sekedar menghindari dendaan atau hukuman.

Sri Baduga mempunyai piagam-piagam yang berisikan penetapan batas-batas tidak hanya pembebasan pajak saja. Di gunung Samaya dan Sunda Sembawa disebut sebagai desa bebas pajak.

Pada masa Prabu Siliwangi menganut gaya kepemimpinan yang memegang teguh atas kesetaraan dalam kehidupan sosial dan hal ini berlaku untuk saat ini.

Nah itulah, sejarah Prabu Siliwangi guys. Sri Baduga itu baik kan orangnya? Ia lebih mementingkan kehidupan sosial para rakyatnya dibandingkan dengan kedudukan atau kesejahteraan kerajaannya.

Dan Prabu Siliwangi ini hingga sekarang dinyatakan sebagai leluhur bagi para orang Sunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *