Indonesia memiliki banyak sekali cerita legenda yang tersebar hingga bisa dibilang semoa masyarakat di Indonesia pasti mengenal minimal 1 cerita legenda ini.

Namun, ada pula beberapa legenda yang kurang dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas sehingga tak banyak yang tahu.

Salah satunya adalah cerita legenda putri tujuh yang memiliki pesan moral yang sangat bagus terutama untuk para anak muda.

Diceritakan, pada jaman dahulu kala ada kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang diperintahkan oleh seorang ratu bernama Cik Sima.

Ia punya 7 orang putri yang sangat cantik dan dikenal dengan sebutan putri Tujuh. Putri bungsunya yang bernama Mayang Sari merupakan putri tercantik di antara keenam saudaranya itu.

Ia juga dikenal dengan nama Mayang Mengurai. Suatu hari saat ketujuh putri sedang mandi di Lubuk Umai,

Mereka tidak sadar bahwa Pangeran Empang Kuala sedang mengintip dari balik semak – semak. Sang pangeran sangat terpesona dengan kecantikan dari salah satu putri. Ia pun bergumam lirih. “Gadis cantik di lubuk Umal, cantik di Umal. Ya, ya d’umai, d’umal…“ gumam Pangeran Empang Kuala.

Lalu, ia pun mengirim utusan untuk meminang sang putri. Pinangan itu disambut baik oleh Ratu Cik Sima. Namun, menurut adat, putri tertua lah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Utusan tersebut lalu kembali menghadap kepada sang Pangeran.

“Ampun Baginda Raja! Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.”

Mendengar laporan itu, sang Raja tak bisa terima. Sang Pangeran segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Keraaan Seri Bunga Tanjung.

Maka pertempuran antara dua kerajaan itu tak dapat dielakkan lagi. Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat hingga sang ratu segera menyembunyikan ketujuh putrinya di sebuah gua di dalam hutan.

Setelah itu sang Ratu kembali menghadapi pasukan Pangeran Empang Kuala. 3 bulan berlalu namun pertempuran tersebut masih belum selesai.

Setelah memasuki bulan ke 4, rakyat Negeri Bunga Tanjung banyak yang tewas. Pasukan Pangeran Empamg Kuala juga telah sangat letih menghadapi pertempuran itu.

Pasukan Sang Pangeran beristirahat dan berlindung di bawah pohon bakau di hilir Sungai Umal. Menjelang malam, secara tiba – tiba pasukan Pangeran Empang Kuala tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan.

Melihat kenyataan itu, Sang Pangerap memerintahkan pasukannya segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

Ratu Cik Sima yang mendengar kabar itu pun gembira dan bersyukur. Lalu keesokan harinya ia pergi ke hutan untuk melihat ketujuh putrinya.

Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat kenyataan bahwa mereka semua sudah tak bernyawa karena kelaparan di dalam gua.

Ia lalu teringat bahwa bekal makanan untuk anak – anaknya hanya cukup untuk tiga bulan saja sedangkan peperangan sudah terjadi selama empat bulan.

Ratu Cik Ma pun lalu jatuh sakit karena kejadian ini lalu tak lama kemudian ia dinyatakan meninggal dunia.

Dari cerita inilah, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambul dari kata d’umai, seperti yang pernah diucapkan oleh sang Pangerang Empang Kuala.

Itulah cerita rakyat mengenai Putr Tujuh yang berakhir tragis. Namun, dari sini kita bisa mengetahui seberapa besar kasih sayang seorang ibu. Sayangnya, ia sedikit lalai dan terlambat saat itu. Menurut kalian, apa pesan moral yang bisa kalian ambil?