Indonesia memiliki sejumlah sejarah yang sangat kaya, dimana terdapat banyak cerita-cerita legenda jaman dahulu yang konon katanya pernah terjadi. Di setiap daerah di Indonesia pun memiliki cerita legenda yang berbeda-beda, percaya atau tidak percaya namun cerita ini merupakan mitos namun di percaya oleh orang sekitar.

Salah satu contohnya yaitu tentang Malin Kundang. Ada yang udah pernah dengar bagaimana ceritanya? Kali ini kita akan bahas siapa sih Malin Kundang yang sangat terkenal pada jaman dahulu? Simak ceritanya ya!

Malin Kundang merupakan cerita legenda yang berasal dari Sumatera Barat yang mengisahkan pada seorang anak laki-laki yang durhaka kepada sang ibu lalu dikutuk menjadi batu lantaran tidak nurut. Malin Kundang ini adalah anak tunggal yang tinggal bersama ibunya bernama Mane Rubayah, yang seorang janda. Pada waktu itu, Sang ibu sangat sayang kepada Malin Kundang dan berharap kelak ia menjadi anak yang penurut dan baik.

Karena sudah terlampau tua, Mande Rubayah hanya bekerja sebagai penjual kue untuk menghidupi diri dana anaknya. Suatu ketika, Malin pernah jatuh dan hampir meninggal namun ternyata bisa diselamatkan oleh ibunya. Semenjak dari situlah mereka saling menyayangi satu sama lain.

Ketika sudah di usia remaja, Malin kundang pergi merantau dan pamitan kepada ibunya agar bisa mengubah hidupnya di kemudian hari. Akhirnya ia pun pergi dengan menggunakan kapal besar milik seorang saudagar. Saat sedang perjalanan, kapalnya itu diserang oleh bajak laut sehingga semua barang yang ada di dalamnya dirampas, bahkan banyak penumpang dan petugas kapal yang di bunuh, untungnya ia bisa selamat. Tak lama kemudian, kapal itu berhenti pada suatu pulau dan mulailah ia memulai kehidupannya dengan bekerja dengan giat. Akhirnya saat sudah kaya dan memiliki rezeki yang cukup, ia memutuskan untuk menikah.

Setelah sekian tahun berlalu dan telah melakukan pelayaran, akhirnya Malin pun kembali ke tanah kelahirannya. Kedatangannya pun disambut ibunya dengan excited sembari melihat ciri-ciri anaknya untuk memastikan apakah benar yang datang itu Malin Kundang atau bukan. Saat sudah mulai mau berkomunikasi, Malin Kundang ternyata marah ketika melihat ibunya sangat lusuh, kotor seperti tidak terurus karena memang sudah makin tua dan jalannya pun mulai membungkuk. Sang istri pun ikut-ikutan melihat dengan jijik, karena tak menyangka bahwa Malin Kundang memiliki ibu yang seperti itu.

Malin pun sempat mendorong ibunya ke tanah saat sedang ingin memeluknya sembari berkata ‘dasar wanita gila, kamu bukan ibuku’. Lalu Mande terkapar sendirian di pasir, sementara orang-orang sekitar pulang ke rumahnya masing-masing. Ia hanya bisa meratapi dengan menangis dan bersedih karena tidak menyangka ankanya bisa berubah. Melihat kelakukan anaknya seperti itu, ibunya sangat marah dan berdoa dalam hati dengan mengangkatkan tangan ke langit dan berkata ‘Tuhan, jika itu benar anakku maafkan perbuatannya dan mohon beri keadilanmu, aku sumpahi dia menjadi batu’.

Seketika langit di pantai itu berubah menjadi gelap dan turun hujan yang sangat deras dan lebar. Tak lama kemudian, badai pun datang dan menyerang kapal yang sedang dinaiki oleh Malin Kundang. Kapalnya hancur dan kepingannya terbawa ombak hingga sampai ke pantai dimana ia lahir. Keesokan harinya, di pinggir kapal tersebut terdapat sebuah batu yang menyerupai manusia dan batu itulah yang disebut sebagai Malin Kundang karena telah durhaka oleh ibunya.

Nah itulah kisah legenda yang sangat terkenal di Indonesia, sebenarnya banyak pesan yang diambil dari cerita tersebut seperti bagaimanapun kondisi orang tua kita, kita harus tetap menyayanginya sampai kapanpun dan jangan sekali-sekali durhaka kepada orang tua, karena doa orang tua terkadang suka dijabah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *