Home » Posts tagged 'indonesia'

Tag Archives: indonesia

Komentar Terbaru

    Website Terkait

    Cukup menggunakan link alternatif www sbowin  kamu juga bisa memperoleh segala bonus terbesar dan paling banyak dicari member sbobet asia.

    Kalian yang masih penasaran dengan permainan judi blackjack online bisa memilih agen blackjack online terpercaya sebagai website judi untuk permainan judi kartu blackjack indonesia.

    Selain itu dengan memainkan sbobet online pada situs sbobet.com menjadi pilihan terbaik bagi member judi sbobet resmi  2021.

    Keseruan gabung playsbo resmi sangatlah berbeda dengan situs judi bola online lainnya. Dimana selalu ada varian bonus dan promo menarik yang dapat Anda nikmati disini!

    Mulai dari layanan dan berbagai fasilitas terbaik bisa kalian dapatkan pada agen joker123 terpercaya. Bagi kamu yang menang slot joker123 gaming bisa mendapatkan keuntungan berupa bonus dan lain sebagainya.

    Semua pemain judi slot online pastinya tertarik dalam hal jackpot besar ketika betting judi slot terbaru yang disediakan khusus bagi member slot online yang bergabung.

    Setelah anda mendapatkan keuntungan dari bermain Daftar Situs Judi Slot Terbaik Dan Terpercaya, anda harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Karena jika anda tidak bisa mengatur keuangan, maka hasil menang main di agen slot online terbaik deposit pulsa tanpa potongan yang anda dapatkan akan menjadi sia – sia.

    Legenda Telaga Biru Asal Maluku

    Dahulu kala, diceritakan di Provinsi Maluku, tepatnya di daerah Halmaheran terdapat sebuah air di antara pembekuan lahar panas.

    Karena mengenang dalam waktu yang cukup lama sheingga membuat airnya menjadi berubah warna menjadi biru.

    Karena peristiwa ini aneh, penduduk desa di daerah sana membuat acara ritual untuk menemukan jawaban atas kejadian ini.

    “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air. Itulah arti kejadian tersebut, yang ditemukan berkat ritual.

    Setelah ritual itu selesai dilakukan, maka Kepala Desa akan menyuruh warganya untuk berkumpul di pusat desa.

    Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya, “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”.

    Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Akhirnya diketahui bawa ada dua keluarga yang anggotanya belum lengkap.

    Mereka adalah Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Setelah itu salah seorang dari warga bercerita tentang mereka berdua.

    Dahulu, ada sepasang kekasih yang berjanji untuk sehidup semati. Mereka bernama Majojaru dan Mahohiduuru.

    Suatu hari Mahohiduuru pergi berkelana ke negeri seberang. Selama hampir sat tahun Mahohiduuru belum juga kembali.

    Majojaru yang terus menunggu dengan setia lama kelamaan mnejadi cemas. Suatu hari Majojaru melihat kapal yang dinaiki Mahohiduuru datang.

    Namun setelah bertanya dengan awak kapal ia mendengar bahwa Mahohiduuru sudah meninggal dunia ketika di negeri seberang.

    Mendengar Kabar tentang Magohiduuru, Majojaru terhempas ke tanah. Mereka berjanji sehidup semati, tetapi sekarang Magohiduuru telah tiada. Kabar yang di dengarnya membuat dia seakan – akan kehilangan dirinya sendiri dan tujuan hidupnya.

    Hati yang sedih menyelimuti raut muka Majoraru, muka yang tidak memiliki harapan hidup tampak di raut wajahnya.

    Lalu perlahan – lahan ia berjalan menuju ke rumahnya, di tengah perjalanan ia berteduh di sebuah pohon, dan bebatuan.

    Merenung dan meratapi nasibnya, pikirannya melayang laying lalu teringat akan kekasihnya Magohiduuru.

    Air mata keluar dari matanya setetes demi setetes hingga tiga hari tiga malam telah terlewati. Air matanya terus mengalir, lama kelamaan, semakin banyak hingga menggenangi dirinya sendiri.

    Majojaru larut dalam kesedihan, dan tanpa di sadari air matanya menggenang tinggi, hingga menenggelamkan bebatuan tempat ia duduk, lama kelamaan ia pun ikut tenggelam dan meninggal dunia di sana.

    Telaga kecil pun terbentuk dari Air mata Majojaru. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa.

    Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga itu. Telaga yang berasal dari tetesan air mata itu lama – lama airnya berubah menjadi kebiru – biruan, sehingga penduduk di dearah sana, memberi nama Telaga Biru.

    Dari sini kita bisa mengambil makna dimana kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Karena, sesedih apapun kita, dunia tetap berjalan seakan tak terjadi apa apa walaupun dunia kita sedang hancur.

    Karena itulah, kita harus selalu berjalan ke depan dan tidak terlalu berlarut di satu tempat. Apapun masalahnya, pasti akan ada jalan keluarnya.

    Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat serta bisa memotivasi terutama bagi kalian yang saat ini mungkin sedang tertimpa masalah atau bersedih.

     

    Cerita Rakyat Legendaris: Si Kelingking

    Belitung yang dulunya dikenal dengan Billiton merupakan nama dari sebuah Pulau di  provinsi Bangka Belitung, Indonesia.

    Pulau yang berada di bagian Timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

    Di pulau ini, ada sebuah cerita rakyat yang menceritakan tentang sepasang suami istri yang ingin membunuh anaknya namun tak pernah behasil.

    Dikisahkan, di sebuah desa di pulau Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang miskin. Namun, walaupun miskin mereka tetap rukun dan bahagia.

    Sayangnya, kebahagiaan tersebut belum terasa lengkap karena mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

    Karena itulah, setiap malamnya mereka berdua selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar dikaruniai seorang anak.

    “Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!” itulah doa yang selalu mereka panjatkan.

    Lalu, suatu hari istrinya hamil dan sepasang suami istri tersebut tentu saja sangat senang karena mereka tak lama lagi akan mendapatkan seorang anak.

    Lalu, beberapa bulan kemudian istrinya melahirkan. Namun, betapa terkejutnya mereka karena melihat bayinya hanya sebesar kelingking. Karena itulah, mereka menamai anak mereka dengan kelingking.

    “Bang! Kenapa anak kita kecil sekali bang?” tanya istrinya sedih. Suaminya hanya terdiam seakan tak percaya. Ia lalu teringat sesuatu.

    “Dik! Ingatkan doa kita selama ini? bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” kata suaminya.

    “Oh iya, rupanya Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.” Kata sang Istri. Mereka pun merawat anak itu dengan sebaik – baiknya.

    Si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh. Walaupun badannya sangat kecil, tetapi si Kelingking mampu menghabiskan makanan yang banyak.

    Orang tuanya jadi sering kerepotan. Mereka miskin. Untuk makan sehari-hari saja susah. Ditambah kerakusan si kelingking maka kesabaran mereka jadi hilang.

    Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuang jauh-jauh Si Kelingking. Pada suatu hari, sang ayah mengajak si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu.

    Setibanya di tengah hutan, sang ayah segera menebang pohon besar yang diarahkan kepada anaknya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa si Kelingking.

    Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang ayah segera kembali ke rumahnya. Mendengar cerita suaminya, sang istri pun menjadi lega, Mereka upa bahwa perbuatan membunuh anak mereka sendiri adalah tercela.

    “Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang istri kepada suaminya. Baru saja kata-kata itu terlontar dari mulut istrinya, tiba-tiba terdengarsuara terjakan dari luar rumah. “Ayah !Ayah ! Diletakkan di mana kayu ini?” Suara keras terdengar dari luar rumah.

    Istrinya pun bertanya penuh rasa heran, “Bang! Bukankah anak Itu sudah mati?” tanya istrinya heran. “Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang suami penasaran.

    Mereka sangat terkejut melihat si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya. Setelah meletakkan kayu itu, si Kelingking langsung mencari makanan di rumahnya.

    Karena merasa kelaparan, ia pun menghabiskan sebakui nasi. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk terbengong-bengong melihat anaknya, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

    Walaupun sudah beberapa kali disingkirkan, namun si kelingking tetap embali lagi. Ketika melihat si Kelingking begitu lahapnya makan dan seolah tak pernah tahu niat jahat orang tuanya, akhirnya mereka sadar.

    Si Kelingking adalah darah dagingnya, sudah seharusnya ia dipelihara dengan baik. Sejak saat itu, mereka menerima keadaan si Kelingking apa adanya.

    Ternyata keberadaan si Klingking sangat berguna, dengan tenaganya yang besar, si Kelingking mampu melakukan pekerjaan yang berat. Pada akhirnya kehidupan mereka menjadi lebih baik, si Kelingking menjadi sumber tambahan penghasilan keluarganya.

     

    Kisah Penyumpit dan Putri Malam

    Dikisahkan, pada zaman dulu hiduplah seorang pemuda yang sebatang kara bernama Penyumpit. Ia tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tuanya.

    Saat masih hidup, ayah penyumpit seringkali berhutang kepada seorang kepala desa Pak Raje yang merupakan orang yang kaya raya namun pelit dan licik.

    Hutangnya tak pernah lunas karena ia selalu melipatgandakannya. Walaupun kedua orang tua Penyumpit telah tiada, namun utangnya tak pernah dianggap lunas.

    Penyumpit harus mmebayar utang ayahnya dengan cara menjaga sawah milik Pak Raje yang padinya sudah mulai menguning. Penyumpit harus menjaganya siang dan malam.

    “Hai Penyumpit, berhati-hati menjaga sawahku. Kalau sampai sawahku rusak, aku akan mendendamu. Kamu harus membayar semua kerusakan itu,” demikian pesan Pak Raje sebelum Penyumpit berangkat ke sawah.

    Padahal, Pak Raje tahu, kemungkinan besar sawahnya bisa rusak karena dimasuki babi-babi hutan. Jika tugas yang satu sudah selesai maka Pak Raje akan memberikannya tugas baru.

    Sekarang ini, tugas penyumpit cukup berat dumana ia harus menuai padi yang siap panen, di malam hari ia harus menjaga sawah agar tidak dirusak oleh babi hutan.

    Seminggu sudah Penyumpit melaksanakan tugasnya dengan baik Pada hari kedelapan ketika sedang asyik duduk di dangau mengawas, sawah Pak Raje, tampak sesosok babi hutan memasuki wilayah persawahan Pak Raje.

    Dengan cekatan Penyumpit melemparkan tombak yang ia bawa ke arah babi hutan. Dari kejauhan terdengar pekik kesakitan babi hutan.

    Ternyata, mata timba Penyumpit telah mengenai kaki babi hutan. Penyumpit lalu dengan cepat berlari ke arah babi hutan yang terluka

    Namun, babi tersebut sudah hilang dan lenyap. Hanya ada tetesan darah dari tubuh babi hutan itu yang bercecerak di sepanjang jalan.

    Penyumpit lalu mengikuti jejak tetesan darah tersebut hingga ke dalam hutan. Ia ingin mengetahu letak persembunyian para babi hutan.

    Semakin lama semakin dalam ia masuk ke hutan hingga suatu ketika ia dikagetkan oleh berubahnya babi yang ia lukai menjadi seorang putri yang cantik. Ia pun terdiam sejenak seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

    “Wahai putri yang cantik, kaukah babi yang terluka tadi?” tanya Penyumpit. “Benar …… Akulah yang tadi menjelma menjadi seekor babi. Namaku Putri Malam, ucap gadis cantik itu sambil merintih kesakitan.

    “Maafkan aku Putri. Aku telah melukaimu. Mari aku bantu mengobati luka di kakimu,” ucap Penyumpit menawarkan diri untuk membantu.

    Secara hati – hati dan perlahan, penyumpit membersihkan luka serta menghentikan darah yang mengalir di kaki Putri Malam.

    Ia menggunakan tumbuhan sekitar yang berkhasiat obat untuk menyembuhkan luka sang putri. Besoknya, putri sudah bisa kembali berjalan.

    Sebagai tanda terima kasi, ia memberikan beberapa bungkusan yang berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering kepada Penyumpit.

    “Ingat ya ! Kamu baru boleh membuka bungkusan ini setelah tiba di rumah,” pesan sang putri. Penyumpit pun kembali ke rumah dan mematuhi pesan putri malam.

    Saat di rumah, ia membuka bungkusan itu dan rempah – rempah tersebut berubah menjadi emas, permata, berlian, dan intan. Kini ia menjadi kaya.

    Kemudian ia membayar semua hutang almarhum ayahnya. Namun, Pak Raje tak habis pikir bagaimana bisa Penyumpit melunasinya.

    “Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Jangan-jangan kamu telah mencuri ya. Aku tidak mau menerima harta haram” ucap Pak Raje.

    Maaf Tuan, saya tidak pernah mencuri dari siapa pun. Ini saya dapatkan dengan halal Ada seorang putri cantik yang baik hati memberikan Ini semua kepada saya.” Penyumpit menjelaskan. “Putri…? Siapa siapa?” tanya Pak Raje penasaran.

    Penyumpit lalu menjelaskan kejadian kemarin dan Pak Raje tertarik untuk mendapatkannya. Ia lalu meniru apa yang dilakukan penyumpit.

    Malam itu, ia melakukan aksinya. Namun, karena tak terbiasa bergadang, ia pun tertidur dan saat ia tertidur, puluhan babi hutan bertubuh besar menyerangnya bertubi – tubi hingga ia mati mengenaskan.

    Berita kematiannya pun menyebar hingga ke telinga penyumpit. Lalu penyumpit berusaha menolong pak raje dengan mengucapkan doa dan mantra khusus.

    Lalu, doanya dikabulkan dan tubuh pak raje kembal menyatu dengan sendirinya dan ia hidup kembali. Pak raje merasa malu dan meminta maaf kepada penyumpit.

    “Hai Penyumpit yang baik budi , maafkan atas segala kesalahanku. Aku telah berbuat salah kepadamu dan keluargamu. Sebagai rasa terima kasihku kepadamu, kamu kunikahkan dengan anakku,” ucap Pak Raje Dada Penyumpit.

    Beberapa hari kemudian, Penyumpit menikah dengan anak Derempuan Pak Raje. Sekarang Penyumpit menjadi orang kaya raya. la hidup bahagia dengan istrinya.

    Pak Raje pun menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong. Ketika usianya semakin lanjut Pak Raje meminta si Penyumpit menjabat sebagai kepala desa menggantikan kedudukannya.

    Cerita Legenda Putri Tujuh

    Indonesia memiliki banyak sekali cerita legenda yang tersebar hingga bisa dibilang semoa masyarakat di Indonesia pasti mengenal minimal 1 cerita legenda ini.

    Namun, ada pula beberapa legenda yang kurang dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas sehingga tak banyak yang tahu.

    Salah satunya adalah cerita legenda putri tujuh yang memiliki pesan moral yang sangat bagus terutama untuk para anak muda.

    Diceritakan, pada jaman dahulu kala ada kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang diperintahkan oleh seorang ratu bernama Cik Sima.

    Ia punya 7 orang putri yang sangat cantik dan dikenal dengan sebutan putri Tujuh. Putri bungsunya yang bernama Mayang Sari merupakan putri tercantik di antara keenam saudaranya itu.

    Ia juga dikenal dengan nama Mayang Mengurai. Suatu hari saat ketujuh putri sedang mandi di Lubuk Umai,

    Mereka tidak sadar bahwa Pangeran Empang Kuala sedang mengintip dari balik semak – semak. Sang pangeran sangat terpesona dengan kecantikan dari salah satu putri. Ia pun bergumam lirih. “Gadis cantik di lubuk Umal, cantik di Umal. Ya, ya d’umai, d’umal…“ gumam Pangeran Empang Kuala.

    Lalu, ia pun mengirim utusan untuk meminang sang putri. Pinangan itu disambut baik oleh Ratu Cik Sima. Namun, menurut adat, putri tertua lah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Utusan tersebut lalu kembali menghadap kepada sang Pangeran.

    “Ampun Baginda Raja! Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.”

    Mendengar laporan itu, sang Raja tak bisa terima. Sang Pangeran segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Keraaan Seri Bunga Tanjung.

    Maka pertempuran antara dua kerajaan itu tak dapat dielakkan lagi. Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat hingga sang ratu segera menyembunyikan ketujuh putrinya di sebuah gua di dalam hutan.

    Setelah itu sang Ratu kembali menghadapi pasukan Pangeran Empang Kuala. 3 bulan berlalu namun pertempuran tersebut masih belum selesai.

    Setelah memasuki bulan ke 4, rakyat Negeri Bunga Tanjung banyak yang tewas. Pasukan Pangeran Empamg Kuala juga telah sangat letih menghadapi pertempuran itu.

    Pasukan Sang Pangeran beristirahat dan berlindung di bawah pohon bakau di hilir Sungai Umal. Menjelang malam, secara tiba – tiba pasukan Pangeran Empang Kuala tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan.

    Melihat kenyataan itu, Sang Pangerap memerintahkan pasukannya segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

    Ratu Cik Sima yang mendengar kabar itu pun gembira dan bersyukur. Lalu keesokan harinya ia pergi ke hutan untuk melihat ketujuh putrinya.

    Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat kenyataan bahwa mereka semua sudah tak bernyawa karena kelaparan di dalam gua.

    Ia lalu teringat bahwa bekal makanan untuk anak – anaknya hanya cukup untuk tiga bulan saja sedangkan peperangan sudah terjadi selama empat bulan.

    Ratu Cik Ma pun lalu jatuh sakit karena kejadian ini lalu tak lama kemudian ia dinyatakan meninggal dunia.

    Dari cerita inilah, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambul dari kata d’umai, seperti yang pernah diucapkan oleh sang Pangerang Empang Kuala.

    Itulah cerita rakyat mengenai Putr Tujuh yang berakhir tragis. Namun, dari sini kita bisa mengetahui seberapa besar kasih sayang seorang ibu. Sayangnya, ia sedikit lalai dan terlambat saat itu. Menurut kalian, apa pesan moral yang bisa kalian ambil?

    Legenda Tujuh Kepala Ular Yang Harus Kamu Tahu

    Sebuah legenda yang beredar di Indonesia memang seringkali menarik perhatian kita. Apalagi, jika cerita – cerota tersebut menarik dan sangat mudah dipahami.

    Salah satunya adalah legenda Tujuh kepala ular yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang. Legenda ini bisa jadi merupakan kenyataan atau memang hanya sebuah “Legenda” belaka.

    Cerita ini bermula pada masa kerajaan Kutei Rukam di Bengkulu dimana hiduplah seorang Putra Mahkota Gajah Meram.

    Ia berencana akan menikahi seorang putri dari kerajaan Suka Negeri. Ia lalu meminta para rakyatnya untuk mempersiapkan pesta yang megah.

    Pada salah satu prosesi pernikaha, pengantin wanita dan pengantin pria sedang mandi di sebuah Danau bernama Danau Tes.

    Saat sedang asyik berenang, tiba – tiba saja sang pangeran dan juga snag putri tersebut menghilang dan tak terlihat.

    Karena khawatir dan kaget, semua tentara langsung melompat dan mencari putri dan pangeran tersebut di danau.

    Mereka sangat heran kenapa tiba – tiba putri dan pangeran menghilang begitu saja. Hal ini lalu diketahui oleh raja dan raja merasa sangat sedih.

    Ia lalu meminta semua prajurit yang ada untuk berenang dan mencarinya. Namun sayangnya mereka berdua tetap tidak ketemu.

    Lalu, belakangan kemudian ada seorang lelaki suci tua yang datang mendekati raja. Ia lalu bilang ke raja bahwa putri dan pangeran yang mereka cari telah diculik oleh ular berkepala tujuh.

    Ular tersebut merupakan raja ular dan memiliki banyak prajurit. Hanya ada satu orang yang bgisa menyelamatkan mereka, yaitu pemuda dengan keterampilan yang hebat dalam seni bela diri dan juga kekuatan gaib.

    Pria muda yang kakek tersebut maksud ternyata merupakan putra bungsu sang raja bernama Pangeran Gajah Merik.

    Ia juga diketahui merupakan salha satu murid dari kakek tersebut dan raja yang mendengar hal itu sangat tersentuh karena tahu bahwa Gajah Merik bersedia mencari hingga menemukan kakak laki – laki dan kakak perempuan iparnya.

    Orang suci atau kakek tersebut juga memberi tahu Pangeran Gajah Merik agar mereka tidak takut kepada para bangsa ular.

    Pangeran tersebut lalu langsung masuk ked alam danau dan melawan para tentara ular dengan gagah berani.

    Tak ada seekor ular pun yang bisa melawannya karena ia sangat kuat. Ia bahkan bisa membunuh tentara ular tersebut dengan sangat mudah.

    Setelah itu ia pun berhasil bertemu dan berhadapan langsung dengan sang raja ular. Raja ular atau ular berkepala tujuh itu sangat marah karena mengetahui semua tentaranya mati di tangan pangeran Gajah Merik.

    “Hei, kamu manusia! Mengapa kamu membunuh semua prajuritku?” tanya raja ular.

    “Mereka berusaha menghentikanku. Aku ingin membebaskan kakak laki-lakiku dan istrinya.”

    “Aku akan membebaskan mereka. Tapi kamu harus melakukan dua hal. Pertama kamu harus membuat prajuritku yang mati hidup lagi. Dan kedua, kamu harus mengalahkan aku tentu saja. Hahaha.”

    Dengan kekuatannya, Gajah Merik lalu menyentuh ular yang mati dan sesuatu yang ajaib terjadi. Ular yang mati tersebut hidup lagi kemudian raja ular serta pangeran berkelahi.

    Raja ular hampir membuhnuh Gajah Merik dengan kekuatannya. Namuhn, karena Gajah Merik memiliki kesaktian yang lebih, ia memenangkan pertarungan setelah berkelahi selama 7 hari.

    Gajah Merik lalu membiarkan para ular dan rajanya itu pergi dan membawa kakaknya serta istri kakaknya kembali ke istana.

    Raja yang melihat mereka kembali snagat senang dan berencana menjadikan kakaknya, Gajah Meram menjadi raja berikutnya.

    Namun Gajah Meram menolaknya dan berkata bahwa Gajah Merik atau adiknya lah yang lebih pantas menjadi raja berikutnya.

    Gajah merik setuju untuk menjadi raja berikutnya dan meminta ayahnya untuk membiarkan para ular menjadi prajuritnya.

     

    Itulah cerita legenda mengenai ular berkepala tujuh. Semoga bermanfaat.

    Legenda Nusantara: Loro Jonggrang

    Siapa sih yang tak pernah mendengar nama Loro Jonggrang. Loro Jonggrang dikisahkan pada jaman dahulu dimana ada sebuha kerajaan besar bernama Prambanan.

    Rakyat di sana hidup tentram dan damai. Namun, kerajaan ini diserang serta dijajah oleh negeri Pengging.

    Ketentraman kerajaan ini lalu terusik dan para tentara tidak bisa menghadapi serangan pasukan Pengging.

    Akhirnya, Prambanan dikuasai oleh Pengging dan dipimpihn oleh Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso sendiri terkenal sangat kejam dan suka memerintah dengan kejam.

    “Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!”, ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya.

    Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita.

    “Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku,” pikir Bandung Bondowoso. Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang.

    “Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?”, Tanya Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.

    “Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya”, ujar Loro Jongrang dalam hati. “Apa yang harus aku lakukan ?”.

    Loro Jonggrang bingung dan pikirannya berputar – putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar serta membahayakan keluarga dan rakyatnya.

    Untuk mengiyakan juga tak mungkin karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.

    “Bagaimana, Loro Jonggrang ?” desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. “Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya,” Katanya.

    “Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”. “Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah.

    “Seribu buah?” teriak Bondowoso. “Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah.

    Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya.

    “Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!”, kata penasehat. “Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!”

    Setelah perlengkapannya siap, Bandung Bondowoso pun berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar – lebar.

    “Pasukan jin, Bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso.

    “Apa yang harus kami lakukan Tuan ?”, tanya pemimpin jin.

    “Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.

    Sementara itu, Loro Jonggrang diam – diamn mengamati dari kejauhan. Ia cemas karena mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan Jin.

    “Wah, bagaimana ini?”, ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami.

    “Cepat bakar semua jerami itu!” perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung.

    Dung… dung… dung! Semburat warna merah memancar ke langit dan diiringi oleh suara hiruk pikuk sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.

    Pasuka jin mengira fajar sudah datang. “Wah, matahari akan terbit!” seru jin. “Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari,” sambung jin yang lain.

    Para jin lalu berhamburan dan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso yang melihatnya heran.

    Paginya, Bandung mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. “Candi yang kau minta sudah berdiri!”. Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!.

    “Jumlahnya kurang satu!” seru Loro Jonggrang. “Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”.

    Bandung Bodnowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. “Tidak mungkin…”, kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang.

    “Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!” katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang.

    Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.

    Legenda Situ Bagendit Dari Indonesia

    Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan. Mulai dari kekayaan alam, buatan, kekayaan budaya, ras, suku, hingga legenda nya yang terkenal sangat banyak.

    Legenda yang ada di Indonesia juga sudah diketahui oleh hampir setiap warga Indonesia bahkan dijadikan sebagai kisah rakyat.

    Karena itulah, banyak sekali warga Indonesia yang mungkin sudah mengetahui banyak kisah legenda di Indonesia.

    Setiap kisah juga memiliki pengajarannya masing – masing serta memiliki kesan tersendiri. Tak terkecuali dengan legenda Situ Bagendit.

    Dikisahkan pada zaman dulu di sebuah desa yang berada di Kota Garut, Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan yang kaya raya bernama nyai Bagendit.

    Kekayaannya yang melimpah ruah ini ia dapatkan dari warisan suami nya yang telah meninggal dunia.

    Dengan kekayaannya yang snagat melimpah ini, menyebabkan ia menjadi orang yang kikir, sombong, dan semena – mena dengan rakyat kecil.

    Karena merasa paling kaya di desa itu maka ia pun seringkali mengadakan pesta besar – besaran, pesta ini dilakukan hanya untuk memamerkan harta benda dan perhiasan yang ia miliki kepada warna di sekitar.

    Walaupun ia terkenal sangat kaya raya namun ia tak pernah mau membantu warga sekitar jika warga sekitar meminta bantuan dari nya.

    Warga sekitar tak suka dengan sikap nyai bagendit. Namun mereka tak bisa berbuat apa – apa karena mereka hanyalah warga biasa.

    Suatu hari saat sedang pesta besar – besaran berlangsung, ada seorang pengemis yang datang dengan pakaian compang – camping, celana lusuh.

    Ia lalu berkata kepada nyai “Nyai, tolong beri hamba makanan sedikit saja,hamba lapar sudah beberapa hari belum makan” kata pengemis tersebut.

    Karena merasa terganggu dengan pengemis itu Nyai Bagendit pun sangat marah dan mengusir pengemis itu dengan kasar, “Pergilah kau dari rumahku, pengemis kotor!!!” Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sangat sedih.

    Suatu hari ada kejadian yang aneh di desa tersebut dimana di jalan ada tertancap sebuah tongkat, karena merasa penasaran warga pun mencoba untuk mencabut tongkat iti, namun tidak bisa.

    Mereka berpikir untuk mencabutnya beramai – ramai maka mereka pun melakukannya namun tetap saja tongkat tersebut tak bisa tercabut.

    Sampai datanglah pengemis yang sebelumnya diusir oleh nyai gendi tsaat itu. Ia mencoba mencabut tingkat tersebut dan tongkat tersebut berhasil tercabut dan mengeluarkan air.

    Tanpa ia sadari air pun keluar semakin deras karena warga takut tenggelam sehinhga mereka mencari tempat yang lebih tinggi agar aman.

    Kareba ketamakan nyai bagendit itu ia tidak mau sama sekali meninggalkan rumah nya berisi banyak harta benda dan perhiasan. Sampai akhir nya ia pun tenggelam dengan harta,rumah beserta isi nya.

    Pada akhir nya Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’.

    Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata nyai bagendit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai bagendit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air.

     

    Itulah kisah mengenai Situ Bagendit. Dari sini kita bisa mengetahui dan paham bahwa kita tak boleh menjadi orang yang sombong dan kikir.

    Karena, bagaimana pun juga semua pemberian itu hanyalah sebuah titipan dari Tuhan yang tak pantas untuk kita pamerkan. Apalagi jika sampai tak mau membantu yang lain. Semoga artikel ini bermanfaat.