Home » Posts tagged 'legenda indonesia'

Tag Archives: legenda indonesia

Komentar Terbaru

    Website Terkait

    Cukup menggunakan link alternatif www sbowin  kamu juga bisa memperoleh segala bonus terbesar dan paling banyak dicari member sbobet asia.

    Kalian yang masih penasaran dengan permainan judi blackjack online bisa memilih agen blackjack online terpercaya sebagai website judi untuk permainan judi kartu blackjack indonesia.

    Selain itu dengan memainkan sbobet online pada situs sbobet.com menjadi pilihan terbaik bagi member judi sbobet resmi  2021.

    Keseruan gabung playsbo resmi sangatlah berbeda dengan situs judi bola online lainnya. Dimana selalu ada varian bonus dan promo menarik yang dapat Anda nikmati disini!

    Mulai dari layanan dan berbagai fasilitas terbaik bisa kalian dapatkan pada agen joker123 terpercaya. Bagi kamu yang menang slot joker123 gaming bisa mendapatkan keuntungan berupa bonus dan lain sebagainya.

    Semua pemain judi slot online pastinya tertarik dalam hal jackpot besar ketika betting judi slot terbaru yang disediakan khusus bagi member slot online yang bergabung.

    Setelah anda mendapatkan keuntungan dari bermain Daftar Situs Judi Slot Terbaik Dan Terpercaya, anda harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Karena jika anda tidak bisa mengatur keuangan, maka hasil menang main di agen slot online terbaik deposit pulsa tanpa potongan yang anda dapatkan akan menjadi sia – sia.

    Legenda Indonesia Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari

    Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa tinggallah seorang Janda bernama Mbok Randa. Ia tinggal seorang diri karena suaminya sudah lama meninggal dunia.

    Suatu hari, ia mengangkat seorang anak Laki-laki menjadi anaknya. Anak angkatnya diberi nama Jaka Tarub. Jaka Tarub pun tumbuh beranjak dewasa.

    Jaka Tarub menjadi pemuda yang sangat tampan, gagah, dan baik hati. Ia juga memiliki kesaktian. Setiap hari, ia selalu membantu ibunya di sawah. Karena memiliki wajah yang sangat tampan banyak gadis-gadis cantik yang ingin menjadi istrinya. Namun, ia belum ingin menikah.

    Setiap hari ibunya menyuruh Jaka Tarub untuk segera menikah. Namun, lagi-lagi ia menolak permintaan ibunya. Suatu hari Mbok Randa jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya. Jaka Tarub sangat sedih.

    Sejak kematian Mbok Randha, Jaka Tarub sering melamun. Kini sawah ladang­nya terbengkalai. “Sia-sia aku bekerja. Un­­tuk siapa hasilnya?” demikian gumam Jaka Tarub.

    Suatu malam, Jaka Tarub bermimpi memakan Daging Rusa. Pada saat ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung pergi ke hutan.

    Dari pagi sampai siang hari ia berjalan. Namun, ia sama sekali tidak menjumpai Rusa. Jangankan Rusa, Kancil pun tidak ada.

    Suatu ketika, ia melewati telaga itu dan secara tidak sengaja ia melihat para bidadari sedang mandi disana.

    Di telaga tampak tujuh perempuan cantik tengah bermain-main air, bercanda, ber­­suka ria. Jaka Tarub sangat terkejut melihat ke­­cantikan mereka.

    Karena jaka Tarub merasa terpikat oleh tujuh bidadari itu, akhirnya ia mengambil salah satu selendangnya.

    Setelahnya para bidadari beres mandi, merekapun berdandan dan siap-siap untuk kembali ke kahyangan.

    Mereka kem­bali mengenakan selendangnya masing-masing. Na­­­mun salah satu bidadari itu tidak mene­­mu­kan selendangnya.

    Keenam kakaknya turut membantu mencari, namun hingga senja tak ditemukan juga. Karena hari sudah mulai senja, Nawangwulan di tinggalkan seorang diri. Kakak-kakanya kembali ke Khayangan. Ia merasa sangat sedih.

    Tidak lama kemudian Jaka Tarub datang menghampiri dan berpura-pura menolong sang Bidadari itu. Di ajaknya bidadari yang ternyata bernama Nawang Wulan itu pulang ke rumahnya. Kehadiran Nawang Wulan membuat Jaka Tarub kembali bersemangat.

    Singkat cerita, merekapun akhirnya menikah. Keduanya hidup dengan Bahagia. mereka pun memiliki seorang putri cantik bernama Nawangsih.

    Sebelum mereka menikah, Nawang wulan mengingatkan kepada Jaka Tarub untuk tidak menanyakan kebiasan yang akan dilakukannya nanti setelahnya ia menjadi istri.

    Rahasianya Nawang Wulan yaitu, Ia memasak nasi selalu menggunakan satu butir beras, dengan sebutir beras itu ia dapat menghasilkan nasi yang banyak.

    Setelah mereka menikah Jaka Tarub sangat penasaran. Namun, dia tidak bertanya langsung kepada Nawang wulan melainkan ia langsung membuka dan melihat panci yang suka dijadikan istrinya itu memasak nasi.

    Ia melihat Setangkai padi ma­sih tergolek di dalamnya, ia pun segera menutupnya kembali. Akibat rasa penasaran Jaka Tarub. Nawang Wulan kehilangan kekuatannya. Sejak saat itu, Nawang Wulan harus menumbuk dan menampi beras untuk dimasak, seperti wanita umumnya.

    Karena tumpukan padinya terus berkurang, suatu waktu, Nawangwulan tanpa sengaja menemukan selendang bidadarinya terselip di antara tumpukan padi. ternyata selendang tersebut ada di lumbung gabah yang di sembunyikan oleh suaminya.

    Nawang wulan pun merasa sangat marah ketika suaminyalah yang mencuri selendangnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke kahyangan.

    Jaka Tarub pun meminta maaf dan memohon kepada istrinya agar tidak pergi lagi ke kahyanngan, Namun Nawangwulan sudah bulat tekadnya, hingga akhirnya ia pergi ke kahyangan.

    Namun ia tetap sesekali turun ke bumi untuk menyusui bayinya. Namun, dengan satu syarat, jaka tarub tidak boleh bersama Nawangsih ketika Nawang wulan menemuinya. Biarkan ia seorang diri di dekat telaga.

    Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadari pun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih.

    Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik.

    Dongeng Cerita Cindelaras

    Pada Zaman Dahulu, Di Sebuah Kerajaan Jenggala. Hiduplah Seorang Raja Yang Bernama Raden Putra. Ia Mempunyai Seorang Permaisuri Yang Sangat Baik Hati, Dan Seorang Selir Yang Cantik.

    Namun, Kecantikan Selir Tidak Sama Seperti Hatinya. Selir Mempunyai Sifat Yang Sangat Iri Pada Permaisuri.

    Kedua Istri Raja Tinggal Di Istana Yang Sangat Megah. Selir Mulai Merencanakan Kejahatan Untuk Menggantikan Posisi Permaisuri. Ia Bekerja Sama Dengan Seorang Tabib Istana, Untuk Melaksanakan Rencananya.

    Suatu Hari, Selir Raja Pura-Pura Sakit. Raja Segera Memanggil Tabib. Setelah Memeriksa Keadaan Selir, Raja Pun Menanyakan Apa Yang Terjadi.

    ‘’Paduka, Ada Seseorang Yang Sudah Menaruh Racun Pada Minuman Selir.’’ Jawab Tabib. ‘’Siapa Yang Berani Melakukan Ini Kepada Selirku?’’ Tanya Sang Raja.

    ‘’Yang, Melakukan Ini Pada Ku Adalah Permaisuri Mu Sendiri. Sepertinya Permaisuri Ingin Membunuhku, Agar Kasih Sayang Baginda Hanya Kepadanya, Dan Kekuasaan Kerajaan Jatuh Ke Tangannya.’’ Jawab Selir Raja.

    Mendengar Yang Di Katakan Selir, Raja Sangat Marah Dan Langsung Memerintahkan Patih Untuk Mengusir Permaisuri Yang Sedang Mengandung Dan Membunuhnya Di Hutan.

    Patih Pun Langsung Membawa Permaisuri Pergi Ke Hutan Belantara. Namun, Patih Yang Sangat Bijak Itu Tidak Membunuh Permaisuri. Ia Tahu Ini Rencana Jahat Selir Tersebut. Patih Pun Menangkap Seekor Kelinci.

    ‘’Permaisuri, Aku Tidak Akan Membunuhmu. Namun, Hamba Akan Memberitahukan Kepada Raja, Bahwa Anda Sudah Hamba Bunuh, Dan Untuk Membuat Raja Dan Selir Tuan Putri Sudah Mati. Hamba Akan Membunuh Seekor Kelinci Ini, Dan Melumuri Darahnya Pada Selendang Milik Permaisuri Dan Pedang Hamba.’’ Ujar Sang Patih.

    “Aku Sangat Berterima Kasih Patih, Karena Kau Tidak Membunuhku Dan Membiarkan Aku Hidup.’’ Jawab Permaisuri.

    ‘’Permaisuri, Saya Terpaksa Harus Meninggalkan Mu Di Hutan Belantara Ini Seorang Diri. Hamba Mohon Maaf Karena Tidak Bisa Menemani.’’ Kata Patih.

    Setelah Beberapa Bulan Permaisuri Tinggal Di Dalam Hutan, Ia Pun Melahirkan Seorang Anak Laki-Laki. Anak Itu Di Beri Nama Cindelaras. Cindelaras Tumbuh Menjadi Anak Yang Cerdas Dan Tampan. Sejak Kecil Ia Sudah Terbiasa Berteman Dengan Binatang.

    Suatu Hari, Cindelaras Sedang Asik Bermain. Tiba-Tiba, Seekor Rajawali Menjatuhan Sebutir Telur Tepat Di Sebelah Cindelaras.

    Cindelaras Langsung Mengambil Telur Itu Dan Menetaskannya. Tiga Minggu Kemudian, Menetaslah Telur Tersebut Menjadi Seekor Anak Ayam Yang Lucu.

    Cindelaras Merawat Ayam Tersebut Dengan Sangat Baik. Tubuh Ayam Itu Terlihat Kuat Dan Kekar, Paruhnya Kokoh Dan Runcing Seperti Paruh Burung Rajawali.

    Kedua Kakinya Kekar Berotot Dan Memiliki Kuku Yang Runcing Tajam Seperti Kuku Rajawali. Namun, Suara Kokoknya Sangat Berbeda Dengan Ayam-Ayam Lainnya.

    Suara Kokoknya Sangat Aneh, ‘’Kukuruyuk, Tuanku Cindelaras, Rumahnya Di Dalam Hutan Belantara, Atap Rumahnya Terbuat Dari Daun Kelapa, Ayahnya Raden Putra Raja Jenggala.” Bunyi Kokok Ayam Cendelaras.

    Cindelaras Sangat Terkejut Dan Langsung Menunjukannya Kepada Ibunya. Permaisuri Pun Merasa Sangat Terkejut Mendengar Suara Kokok Si Ayam.

    Ia Pun Langsung Menceritakan Siapa Ayahnya Dan Mengapa Mereka Tinggal Di Dalam Hutan. Mendengar Cerita Ibunya, Cindelaras Memutuskan Untuk Pergi Ke Istana Untuk Bertemu Ayahnya.

    Awalnya Ibunya Tidak Mengijinkan Cindelaras Pergi. Namun, Ia Terus Memaksa. Setelah Ibunya Mengijinkannya Pergi.

    Ia Langsung Berangkat Di Temani Ayam Jantannya. Namun, Di Tengah Perjalanan Cindelaras Bertemu Dengan Orang-Orang Yang Sedang Mengadu Ayam.

    Mereka Melihat Cindelaras Membawa Ayam Jagonya Dan Mengajaknya Ikut Menguji Kehebatan Ayamnya. ‘’Hei Kau, Apakah Berani Adu Ayam Dengan Ayam Jago Ku Yang Kuat Ini?’’ Ujar Mereka.

    ‘’Baiklah.’’ Jawab Cindelaras. Ternyata, Ayam Jantan Milik Cindelaras Dapat Mengalahlan Lawan Setelah Beberapa Kali Di Adu. Namun, Ayamnya Tidak Dapat Di Kalahkan.

    Berita Tentang Kehebatan Ayam Jantannya Cindelaras Terdengar Hingga Teling Raja Raden Putra. Raja Langsung Menyuruh Hulubalangnya Mengundang Cindelaras Datang Ke Istana. Cindelaras Pun Sampai Istana.

    ‘’Paduka, Hamba Menghadapmu.’’ Kata Cindelaras Dengan Sopan. ‘’Anak Ini Sangat Tampan Dan Cerdas, Sepertinya Ia Bukan Dari Kalangan Rakyat Biasa.’’ Ujarnya Dalam Hati.

    Akhirnya, Di Adulah Ayam Jantan Milik Cindelaras Melawan Ayam Jantan Milik Raja. Namun, Raja Mengajukan Satu Syarat Kepada Cindelaras.

    Jika Ia Kalah, Ia Harus Bersedia Menyerahkan Ayam Jantannya Dan Kepalanya Di Pancung. Namun, Jika Ia Menang. Raja Raden Putra Akan Memberikan Setengah Kekayaannya.

    Dua Ekor Ayam Jantan Bertarung Dengan Sangat Gagah. Dalam Beberapa Menit, Ayam Jantan Milik Cindelaras Dapat Mengalahkan Ayam Jantan Milik Raja. Penonton Pun Bersorak Memberikan Selamat Kepada Cindelaras.

    ‘’Baiklah, Aku Mengaku Kalah. Akan Ku Serahkan Setengah Kekayaan Ku Menjadi Milik Mu Cindelaras. Namun, Siapa Kamu Sebenarnya’’ Ujarnya Sang Raja.

    Cindelaras, Langsung Membungkuk Dan Membisikkan Sesuatu Kepada Ayamnya. Beberapa Menit Kemudian. Ayam Jantan Tersebut Mengeluarkan Suara.

    “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, Rumahnya Di Dalam Hutan, Atapnya Terbuat Dari Daun Kelapa, Ayahnya Raden Putra…,” Ayam Jantan Itu Berkokok Berulang-Ulang.

    Raden Putra Sangat Terkejut Mendengar Suara Kokok Ayam Cindelaras. ‘’Benarkah Itu ?’’ Tanyanya Dengan Sangat Heran Dan Penasaran.

    ‘’Benar Sekali Baginda. Hamba Cindelaras, Putra Dari Permaisuri Baginda.’’ Jawabnya Dengan Tegas. Raja Raden Putra, Langsung Memangil Patih. Patih Pun Langsung Menceritakan Kebenarannya.

    ‘’Aku Sudah Melakukan Kesalahan Dan Memberikan Hukuman Kepada Permaisuri Yang Tidak Bersalah. Aku Akan Memberikan Hukuman Yang Setimpal Kepada Selir’’ Ucapnya Menyesal.

    Raja Raden Putra Langsung Memeluk Cindelaras Dan Meminta Maaf Atas Semua Kesalahannya Itu. Raden Putra, Patih Dan Hulubalang Langsung Pergi Ke Hutan Dan Menjemput Permaisuri.

    Akhirnya Raja Raden Putra, Permaisuri Dan Cindelaras Hidup Bersama Dan Bahagia. Setelah Raden Putra Meninggal. Cinderalaslah Yang Menggantikan Ayahnya Sebagai Raja. Ia Memimpin Kerajaan Dengan Adil Dan Bijaksana.

    Legenda si Kabayan Membayar Hutang

    Pada suatu saat si Kabayan memiliki banyak hutang pada rentenir Arab sehingga membuatnya pusing memikirkannya. Hal ini karena hutang Kabayan terus bertambah karena adanya bunga berbunga.

    Bagaimana dia bisa membayar utangnya ketika dia tidak lagi memiliki satu hal pun yang bisa dia jual bahkan hanya untuk membayar sebagian dari jumlah utangnya?

    Dia berpikir dan berpikir, dan akhirnya dia menemukan sebuah rencana untuk melunasi hutang dan sekaligus memberi pelajaran pada rentenir.

    “Akhirnya!” katanya kepada istrinya. “Sekarang aku tahu apa yang harus dilakukan!” Istrinya menyetujui usulnya, bahkan menyambutnya dengan sangat antusias, dan melanjutkan untuk membantunya melaksanakannya.

    Pertama-tama dia mengisi bak cuci dengan arak dan menebarkan kapuk ke lantai di sebelah bak mandi.

    Si Kabayan mandi dalam anggur, dan menggulung tubuhnya yang basah di sekitar dan di dalam kapuk sampai ia putih berbulu.

    Kemudian dia merangkak ke dalam kandang ayam besar. Tidak lama kemudian orang Arab datang ke rumah Si Kabayan untuk menaih hutang.

    “Kabayan tidak di rumah,” kata istrinya kepada orang Arab itu. “Dimana dia ?” tanya si Arab. “Dia pergi untuk tampil di hadapan Raja.”

    “Sang Raja?” tanya orang Arab itu dengan heran. “Apa yang telah terjadi ?” “Dia pergi untuk melaporkan kepada Raja bahwa dia telah menemukan dan menangkap burung yang sangat langka.”

    “Burung langka? Burung jenis apa? ” Orang Arab menunjukkan keinginannya untuk melihat burung aneh, tetapi istri Si Kabayan menolak.

    Kabayan hanya akan menunjukan hewan langka dan indah ini kepada Raja, dan jika dia membiarkan orang Arab melihatnya, dia berkata, Kabayan akan sangat marah, karena Kabayan telah mengatakan secara khusus bahwa tidak ada orang lain yang melihat burung di hadapan Raja sendiri .

    Penjelasan ini hanya meningkatkan keinginan orang Arab untuk melihat burung Kabayan. Dan dengan sedikit memaksa, akhirnya istri kabayan bersedia menunjukan burung ajaib itu kepada rentenir.

    Membiarkan dirinya dibujuk, istri Kabayan membawa si Arab ke bagian belakang rumah, di mana dia menunjuk ke kandang ayam yang ditutupi dengan selembar kain.

    Penuh rasa ingin tahu, orang Arab itu mengangkat ujung kain. Saat dia mengangkatnya sedikit lebih tinggi, Si Kabayan keluar dari kandang, dan berteriak “ba-ra-ka-tak-tak; ba-ra-ka-tak-tak ”, dia berlari keluar dari pandangan.

    Istri Si Kabayan mulai menangis. “Oh, oh,” isaknya. “Lihat apa yang telah kau lakukan! Apa yang akan saya sampaikan kepada Kabayan, dan apa yang akan dikatakan Raja.

    Saya harus memberi tahu dia bahwa semua kesalahan Anda bahwa burungnya berhasil lolos. Dan kemudian Kabayan harus memberi tahu Raja. Oh, oh! “

    Orang Arab itu ketakutan. “Tolong jangan,” pintanya. “Tolong jangan beri tahu Kabayan dan Raja. Sebagai gantinya semua hutang Kabayan saya anggap lunas.

    Tapi jangan laporkan ini kepada Kabayan dan Raja.” Ucap si Rentenir Arab ketakutan Akhirnya hutang si Kabayan kepada Rentenir Arab pun lunas.

    Itulah legenda dari si Kabayan Membayar Hutang yang berasal dari Jawa Barat. Dari sini kita bisa belajar bahwa sebenarnya apa yang dilakukan kabayan itu tidak baik karena telah berbohong, namun, kecerdikannya dalam menghindari masalah dapat kita ambil.

    Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang suka dengan berbagai cerita legenda dari Jawa Barat.

    Legenda Telaga Biru Asal Maluku

    Dahulu kala, diceritakan di Provinsi Maluku, tepatnya di daerah Halmaheran terdapat sebuah air di antara pembekuan lahar panas.

    Karena mengenang dalam waktu yang cukup lama sheingga membuat airnya menjadi berubah warna menjadi biru.

    Karena peristiwa ini aneh, penduduk desa di daerah sana membuat acara ritual untuk menemukan jawaban atas kejadian ini.

    “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air. Itulah arti kejadian tersebut, yang ditemukan berkat ritual.

    Setelah ritual itu selesai dilakukan, maka Kepala Desa akan menyuruh warganya untuk berkumpul di pusat desa.

    Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya, “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”.

    Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Akhirnya diketahui bawa ada dua keluarga yang anggotanya belum lengkap.

    Mereka adalah Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Setelah itu salah seorang dari warga bercerita tentang mereka berdua.

    Dahulu, ada sepasang kekasih yang berjanji untuk sehidup semati. Mereka bernama Majojaru dan Mahohiduuru.

    Suatu hari Mahohiduuru pergi berkelana ke negeri seberang. Selama hampir sat tahun Mahohiduuru belum juga kembali.

    Majojaru yang terus menunggu dengan setia lama kelamaan mnejadi cemas. Suatu hari Majojaru melihat kapal yang dinaiki Mahohiduuru datang.

    Namun setelah bertanya dengan awak kapal ia mendengar bahwa Mahohiduuru sudah meninggal dunia ketika di negeri seberang.

    Mendengar Kabar tentang Magohiduuru, Majojaru terhempas ke tanah. Mereka berjanji sehidup semati, tetapi sekarang Magohiduuru telah tiada. Kabar yang di dengarnya membuat dia seakan – akan kehilangan dirinya sendiri dan tujuan hidupnya.

    Hati yang sedih menyelimuti raut muka Majoraru, muka yang tidak memiliki harapan hidup tampak di raut wajahnya.

    Lalu perlahan – lahan ia berjalan menuju ke rumahnya, di tengah perjalanan ia berteduh di sebuah pohon, dan bebatuan.

    Merenung dan meratapi nasibnya, pikirannya melayang laying lalu teringat akan kekasihnya Magohiduuru.

    Air mata keluar dari matanya setetes demi setetes hingga tiga hari tiga malam telah terlewati. Air matanya terus mengalir, lama kelamaan, semakin banyak hingga menggenangi dirinya sendiri.

    Majojaru larut dalam kesedihan, dan tanpa di sadari air matanya menggenang tinggi, hingga menenggelamkan bebatuan tempat ia duduk, lama kelamaan ia pun ikut tenggelam dan meninggal dunia di sana.

    Telaga kecil pun terbentuk dari Air mata Majojaru. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa.

    Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga itu. Telaga yang berasal dari tetesan air mata itu lama – lama airnya berubah menjadi kebiru – biruan, sehingga penduduk di dearah sana, memberi nama Telaga Biru.

    Dari sini kita bisa mengambil makna dimana kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Karena, sesedih apapun kita, dunia tetap berjalan seakan tak terjadi apa apa walaupun dunia kita sedang hancur.

    Karena itulah, kita harus selalu berjalan ke depan dan tidak terlalu berlarut di satu tempat. Apapun masalahnya, pasti akan ada jalan keluarnya.

    Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat serta bisa memotivasi terutama bagi kalian yang saat ini mungkin sedang tertimpa masalah atau bersedih.

     

    Cerita Rakyat Legendaris: Si Kelingking

    Belitung yang dulunya dikenal dengan Billiton merupakan nama dari sebuah Pulau di  provinsi Bangka Belitung, Indonesia.

    Pulau yang berada di bagian Timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

    Di pulau ini, ada sebuah cerita rakyat yang menceritakan tentang sepasang suami istri yang ingin membunuh anaknya namun tak pernah behasil.

    Dikisahkan, di sebuah desa di pulau Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang miskin. Namun, walaupun miskin mereka tetap rukun dan bahagia.

    Sayangnya, kebahagiaan tersebut belum terasa lengkap karena mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

    Karena itulah, setiap malamnya mereka berdua selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar dikaruniai seorang anak.

    “Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!” itulah doa yang selalu mereka panjatkan.

    Lalu, suatu hari istrinya hamil dan sepasang suami istri tersebut tentu saja sangat senang karena mereka tak lama lagi akan mendapatkan seorang anak.

    Lalu, beberapa bulan kemudian istrinya melahirkan. Namun, betapa terkejutnya mereka karena melihat bayinya hanya sebesar kelingking. Karena itulah, mereka menamai anak mereka dengan kelingking.

    “Bang! Kenapa anak kita kecil sekali bang?” tanya istrinya sedih. Suaminya hanya terdiam seakan tak percaya. Ia lalu teringat sesuatu.

    “Dik! Ingatkan doa kita selama ini? bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” kata suaminya.

    “Oh iya, rupanya Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.” Kata sang Istri. Mereka pun merawat anak itu dengan sebaik – baiknya.

    Si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh. Walaupun badannya sangat kecil, tetapi si Kelingking mampu menghabiskan makanan yang banyak.

    Orang tuanya jadi sering kerepotan. Mereka miskin. Untuk makan sehari-hari saja susah. Ditambah kerakusan si kelingking maka kesabaran mereka jadi hilang.

    Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuang jauh-jauh Si Kelingking. Pada suatu hari, sang ayah mengajak si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu.

    Setibanya di tengah hutan, sang ayah segera menebang pohon besar yang diarahkan kepada anaknya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa si Kelingking.

    Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang ayah segera kembali ke rumahnya. Mendengar cerita suaminya, sang istri pun menjadi lega, Mereka upa bahwa perbuatan membunuh anak mereka sendiri adalah tercela.

    “Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang istri kepada suaminya. Baru saja kata-kata itu terlontar dari mulut istrinya, tiba-tiba terdengarsuara terjakan dari luar rumah. “Ayah !Ayah ! Diletakkan di mana kayu ini?” Suara keras terdengar dari luar rumah.

    Istrinya pun bertanya penuh rasa heran, “Bang! Bukankah anak Itu sudah mati?” tanya istrinya heran. “Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang suami penasaran.

    Mereka sangat terkejut melihat si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya. Setelah meletakkan kayu itu, si Kelingking langsung mencari makanan di rumahnya.

    Karena merasa kelaparan, ia pun menghabiskan sebakui nasi. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk terbengong-bengong melihat anaknya, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

    Walaupun sudah beberapa kali disingkirkan, namun si kelingking tetap embali lagi. Ketika melihat si Kelingking begitu lahapnya makan dan seolah tak pernah tahu niat jahat orang tuanya, akhirnya mereka sadar.

    Si Kelingking adalah darah dagingnya, sudah seharusnya ia dipelihara dengan baik. Sejak saat itu, mereka menerima keadaan si Kelingking apa adanya.

    Ternyata keberadaan si Klingking sangat berguna, dengan tenaganya yang besar, si Kelingking mampu melakukan pekerjaan yang berat. Pada akhirnya kehidupan mereka menjadi lebih baik, si Kelingking menjadi sumber tambahan penghasilan keluarganya.

     

    Kisah Penyumpit dan Putri Malam

    Dikisahkan, pada zaman dulu hiduplah seorang pemuda yang sebatang kara bernama Penyumpit. Ia tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tuanya.

    Saat masih hidup, ayah penyumpit seringkali berhutang kepada seorang kepala desa Pak Raje yang merupakan orang yang kaya raya namun pelit dan licik.

    Hutangnya tak pernah lunas karena ia selalu melipatgandakannya. Walaupun kedua orang tua Penyumpit telah tiada, namun utangnya tak pernah dianggap lunas.

    Penyumpit harus mmebayar utang ayahnya dengan cara menjaga sawah milik Pak Raje yang padinya sudah mulai menguning. Penyumpit harus menjaganya siang dan malam.

    “Hai Penyumpit, berhati-hati menjaga sawahku. Kalau sampai sawahku rusak, aku akan mendendamu. Kamu harus membayar semua kerusakan itu,” demikian pesan Pak Raje sebelum Penyumpit berangkat ke sawah.

    Padahal, Pak Raje tahu, kemungkinan besar sawahnya bisa rusak karena dimasuki babi-babi hutan. Jika tugas yang satu sudah selesai maka Pak Raje akan memberikannya tugas baru.

    Sekarang ini, tugas penyumpit cukup berat dumana ia harus menuai padi yang siap panen, di malam hari ia harus menjaga sawah agar tidak dirusak oleh babi hutan.

    Seminggu sudah Penyumpit melaksanakan tugasnya dengan baik Pada hari kedelapan ketika sedang asyik duduk di dangau mengawas, sawah Pak Raje, tampak sesosok babi hutan memasuki wilayah persawahan Pak Raje.

    Dengan cekatan Penyumpit melemparkan tombak yang ia bawa ke arah babi hutan. Dari kejauhan terdengar pekik kesakitan babi hutan.

    Ternyata, mata timba Penyumpit telah mengenai kaki babi hutan. Penyumpit lalu dengan cepat berlari ke arah babi hutan yang terluka

    Namun, babi tersebut sudah hilang dan lenyap. Hanya ada tetesan darah dari tubuh babi hutan itu yang bercecerak di sepanjang jalan.

    Penyumpit lalu mengikuti jejak tetesan darah tersebut hingga ke dalam hutan. Ia ingin mengetahu letak persembunyian para babi hutan.

    Semakin lama semakin dalam ia masuk ke hutan hingga suatu ketika ia dikagetkan oleh berubahnya babi yang ia lukai menjadi seorang putri yang cantik. Ia pun terdiam sejenak seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

    “Wahai putri yang cantik, kaukah babi yang terluka tadi?” tanya Penyumpit. “Benar …… Akulah yang tadi menjelma menjadi seekor babi. Namaku Putri Malam, ucap gadis cantik itu sambil merintih kesakitan.

    “Maafkan aku Putri. Aku telah melukaimu. Mari aku bantu mengobati luka di kakimu,” ucap Penyumpit menawarkan diri untuk membantu.

    Secara hati – hati dan perlahan, penyumpit membersihkan luka serta menghentikan darah yang mengalir di kaki Putri Malam.

    Ia menggunakan tumbuhan sekitar yang berkhasiat obat untuk menyembuhkan luka sang putri. Besoknya, putri sudah bisa kembali berjalan.

    Sebagai tanda terima kasi, ia memberikan beberapa bungkusan yang berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering kepada Penyumpit.

    “Ingat ya ! Kamu baru boleh membuka bungkusan ini setelah tiba di rumah,” pesan sang putri. Penyumpit pun kembali ke rumah dan mematuhi pesan putri malam.

    Saat di rumah, ia membuka bungkusan itu dan rempah – rempah tersebut berubah menjadi emas, permata, berlian, dan intan. Kini ia menjadi kaya.

    Kemudian ia membayar semua hutang almarhum ayahnya. Namun, Pak Raje tak habis pikir bagaimana bisa Penyumpit melunasinya.

    “Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Jangan-jangan kamu telah mencuri ya. Aku tidak mau menerima harta haram” ucap Pak Raje.

    Maaf Tuan, saya tidak pernah mencuri dari siapa pun. Ini saya dapatkan dengan halal Ada seorang putri cantik yang baik hati memberikan Ini semua kepada saya.” Penyumpit menjelaskan. “Putri…? Siapa siapa?” tanya Pak Raje penasaran.

    Penyumpit lalu menjelaskan kejadian kemarin dan Pak Raje tertarik untuk mendapatkannya. Ia lalu meniru apa yang dilakukan penyumpit.

    Malam itu, ia melakukan aksinya. Namun, karena tak terbiasa bergadang, ia pun tertidur dan saat ia tertidur, puluhan babi hutan bertubuh besar menyerangnya bertubi – tubi hingga ia mati mengenaskan.

    Berita kematiannya pun menyebar hingga ke telinga penyumpit. Lalu penyumpit berusaha menolong pak raje dengan mengucapkan doa dan mantra khusus.

    Lalu, doanya dikabulkan dan tubuh pak raje kembal menyatu dengan sendirinya dan ia hidup kembali. Pak raje merasa malu dan meminta maaf kepada penyumpit.

    “Hai Penyumpit yang baik budi , maafkan atas segala kesalahanku. Aku telah berbuat salah kepadamu dan keluargamu. Sebagai rasa terima kasihku kepadamu, kamu kunikahkan dengan anakku,” ucap Pak Raje Dada Penyumpit.

    Beberapa hari kemudian, Penyumpit menikah dengan anak Derempuan Pak Raje. Sekarang Penyumpit menjadi orang kaya raya. la hidup bahagia dengan istrinya.

    Pak Raje pun menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong. Ketika usianya semakin lanjut Pak Raje meminta si Penyumpit menjabat sebagai kepala desa menggantikan kedudukannya.

    Cerita Legenda Putri Tujuh

    Indonesia memiliki banyak sekali cerita legenda yang tersebar hingga bisa dibilang semoa masyarakat di Indonesia pasti mengenal minimal 1 cerita legenda ini.

    Namun, ada pula beberapa legenda yang kurang dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas sehingga tak banyak yang tahu.

    Salah satunya adalah cerita legenda putri tujuh yang memiliki pesan moral yang sangat bagus terutama untuk para anak muda.

    Diceritakan, pada jaman dahulu kala ada kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang diperintahkan oleh seorang ratu bernama Cik Sima.

    Ia punya 7 orang putri yang sangat cantik dan dikenal dengan sebutan putri Tujuh. Putri bungsunya yang bernama Mayang Sari merupakan putri tercantik di antara keenam saudaranya itu.

    Ia juga dikenal dengan nama Mayang Mengurai. Suatu hari saat ketujuh putri sedang mandi di Lubuk Umai,

    Mereka tidak sadar bahwa Pangeran Empang Kuala sedang mengintip dari balik semak – semak. Sang pangeran sangat terpesona dengan kecantikan dari salah satu putri. Ia pun bergumam lirih. “Gadis cantik di lubuk Umal, cantik di Umal. Ya, ya d’umai, d’umal…“ gumam Pangeran Empang Kuala.

    Lalu, ia pun mengirim utusan untuk meminang sang putri. Pinangan itu disambut baik oleh Ratu Cik Sima. Namun, menurut adat, putri tertua lah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Utusan tersebut lalu kembali menghadap kepada sang Pangeran.

    “Ampun Baginda Raja! Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.”

    Mendengar laporan itu, sang Raja tak bisa terima. Sang Pangeran segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Keraaan Seri Bunga Tanjung.

    Maka pertempuran antara dua kerajaan itu tak dapat dielakkan lagi. Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat hingga sang ratu segera menyembunyikan ketujuh putrinya di sebuah gua di dalam hutan.

    Setelah itu sang Ratu kembali menghadapi pasukan Pangeran Empang Kuala. 3 bulan berlalu namun pertempuran tersebut masih belum selesai.

    Setelah memasuki bulan ke 4, rakyat Negeri Bunga Tanjung banyak yang tewas. Pasukan Pangeran Empamg Kuala juga telah sangat letih menghadapi pertempuran itu.

    Pasukan Sang Pangeran beristirahat dan berlindung di bawah pohon bakau di hilir Sungai Umal. Menjelang malam, secara tiba – tiba pasukan Pangeran Empang Kuala tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan.

    Melihat kenyataan itu, Sang Pangerap memerintahkan pasukannya segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

    Ratu Cik Sima yang mendengar kabar itu pun gembira dan bersyukur. Lalu keesokan harinya ia pergi ke hutan untuk melihat ketujuh putrinya.

    Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat kenyataan bahwa mereka semua sudah tak bernyawa karena kelaparan di dalam gua.

    Ia lalu teringat bahwa bekal makanan untuk anak – anaknya hanya cukup untuk tiga bulan saja sedangkan peperangan sudah terjadi selama empat bulan.

    Ratu Cik Ma pun lalu jatuh sakit karena kejadian ini lalu tak lama kemudian ia dinyatakan meninggal dunia.

    Dari cerita inilah, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambul dari kata d’umai, seperti yang pernah diucapkan oleh sang Pangerang Empang Kuala.

    Itulah cerita rakyat mengenai Putr Tujuh yang berakhir tragis. Namun, dari sini kita bisa mengetahui seberapa besar kasih sayang seorang ibu. Sayangnya, ia sedikit lalai dan terlambat saat itu. Menurut kalian, apa pesan moral yang bisa kalian ambil?

    Asal Mula Candi Pari Yang Jarang Diketahui

    Dahulu kala ada seorang lelaki tua yang tinggal di Gunung Penanggungan. Namanya adalah Kiai Gede Penanggungan.

    Ia dikenal sebagai orang yang sakti dan memiliki kekuatan gaib. Kiai Gede Penanggungan juga memiliki seorang putri yang cantik.

    Namanya adalah Dewi Walangangin. Walau sangat cantik, namun ia belum menikah. Itu sebabnya Kiai Gede Penanggungan berdoa siang dan malam untuk putrinya. Akhirnya, Tuhan Menjawab doanya, seorang pria muda dan tampan datang ke tempatnya.

    “Aku akan mengangkatmu sebagai muridku tetapi kamu harus menikahi putriku. Setuju?” jawab Kiai Gede.

    Jaka menghela nafas panjang. Lalu ia berkata “Ya, saya setuju. Saya akan menikahi putri Anda. ”Baik Dewi Walangangin dan Jaka Pandelegan menjalani pernikahan yang bahagia. Terutama Jaka, dia bahkan lebih bahagia.

    Kiai Gede Penanggungan mengajarinya banyak hal. Setelah beberapa tahun tinggal bersama Kiai Gede Penanggungan, kini saatnya pasangan itu meninggalkan gunung Penanggungan dan menemukan kehidupan baru sebagai suami istri.

    “Aku tahu kalian tidak bisa tinggal bersamaku selama-lamanya. Sebelum kalian pergi, ambil benih padi (pari) ini. Setiap kali orang meminta kepada Anda, berikan beberapa. Jangan sombong jika kami sudah menjadi orang kamu kaya.” Pesan Kiai Gede kepada Anak dan Menantunya.

    Jaka Pandelegan dan Dewi Walangangin pun berjanji akan mentaati pesan dari ayah mereka. Setelah itu, pasangan itu meninggalkannya dan membawa biji pari atau beras.

    Kemudian, di tempat baru, mereka menanam benih. Segera, tumbuh banyak pohon padi yang menghasilkan beras yang snagat banyak.

    Sekarang pasangan itu menjadi sangat kaya. Tetangga miskin datang kepada pasangan itu untuk meminta benih pari.

    “Tidak boleh! Jika kamu ingin makan, kamu harus bekerja keras seperti saya! “Kata Jaka Pandelegan.

    Lama kelamaan Kiai Gede Penanggungan mendengar kelakuan buruk anak dan menantunya. Jadi, ia memutuskan untuk mengunjunginya.

    Ia ingin mengingatkannya tentang janjinya. Kiai Gede Penanggungan segera memanggil nama mereka ketika dia tiba di sawah.

    “Jaka Pandelegan, kemarilah! Saya ingin berbicara dengan kamu.” Tapi Jaka mengabaikannya. Dia terus melakukan aktivitasnya.

    “Putriku, Dewi. Ini aku, ayahmu.” Tapi Dewi juga mengabaikannya. Kiai Gede Penanggungan benar-benar marah.

    Dia kemudian berkata, “Kalian berdua seperti Candi. Kalian tidak bisa mendengarkan saya.”

    Tepat setelah dia mengucapkan kata-kata itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Perlahan, Jaka dan Dewi berubah menjadi Candi. Karena candi berdiri di antara padi (pari), orang kemudian menamainya sebagai Candi Pari (Padi).

    Dari sini kita bisa mendapatkan pesan moral tentang kita sebagai manusia tidak boleh menjadi orang yang sombong.

    Apalagi jika kita memiliki kelebihan. Bantulan mereka yang lebih kurang mampu dan tanamlah benih karma yang baik.

    Selain itu, selalu ingatlah apa nasehat orang tua karena hal itu pasti akan sangat berguna untuk kalian dan kalian harus selalu mengingat nasehat mereka.

    Jika kalian memiliki kelebihan dan kalian sombong, hal ini lama kelamaan hanya akan mengakibatkan kerugian di masa yang akan datang.

    Karena itulah, taka da gunanya bersombong apalagi mengingat semua kekayaan yang kita dimiliki hanyalah titipan Tuhan belaka.

    Nantinya, yang akan kita bawa hanyalah karma – karma yang sudah kita lakukan selama kita masih hidup di dunia. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang ingin tahu lebih banyak mengenai berbagai legenda di Indonesia.