Home » Posts tagged 'legenda'

Tag Archives: legenda

Komentar Terbaru

    Website Terkait

    Cukup menggunakan link alternatif www sbowin  kamu juga bisa memperoleh segala bonus terbesar dan paling banyak dicari member sbobet asia.

    Kalian yang masih penasaran dengan permainan judi blackjack online bisa memilih agen blackjack online terpercaya sebagai website judi untuk permainan judi kartu blackjack indonesia.

    Selain itu dengan memainkan sbobet online pada situs sbobet.com menjadi pilihan terbaik bagi member judi sbobet resmi  2021.

    Keseruan gabung playsbo resmi sangatlah berbeda dengan situs judi bola online lainnya. Dimana selalu ada varian bonus dan promo menarik yang dapat Anda nikmati disini!

    Mulai dari layanan dan berbagai fasilitas terbaik bisa kalian dapatkan pada agen joker123 terpercaya. Bagi kamu yang menang slot joker123 gaming bisa mendapatkan keuntungan berupa bonus dan lain sebagainya.

    Semua pemain judi slot online pastinya tertarik dalam hal jackpot besar ketika betting judi slot terbaru yang disediakan khusus bagi member slot online yang bergabung.

    Setelah anda mendapatkan keuntungan dari bermain Daftar Situs Judi Slot Terbaik Dan Terpercaya, anda harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Karena jika anda tidak bisa mengatur keuangan, maka hasil menang main di agen slot online terbaik deposit pulsa tanpa potongan yang anda dapatkan akan menjadi sia – sia.

    Legenda Awal Mula Rawa Pening

    Pada jaman dahulu kala, di lembah gunung Telomayo hiduplah sepasang suami istri yang bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta. Mereka hidup sederhana dan belum dikarunia keturunan.

    Ki Hajar akhirnya memutuskan untuk pergi bertapa di Gunung Telomoyo untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dikarunia seorang anak.

    Setelah beberapa lama Ki Hajar bertapa di gunung, sang istri kemudian hamil. Perut Nyai Selakanta pun semakin hari semakin membesar hingga akhirnya melahirkan seorang anak.

    Namun betapa terkejutnya Nyai Selakanta, ternyata yang dilahirkan olehnya bukanlah bayi manusia melainkan seekor Naga. Ajaibnya naga tersebut dapat berbicara dan Nyai Selakanta pun menamainya Baru Klinting.

    Hari demi hari Naga Baru Klinting semakin besar. Hingga pada suatu hari dia bertanya kepada ibunya, ”Ibu di manakah keberadaan ayahku”?.

    Nyai Selakanta pun memberitahukan bahwa ayahnya sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Naga Baru Kiinting pun pergi kesana dan bertemu seorang pria tua yang merupakan ayahnya.

    Ki Hajar tidak percaya begitu saja dengan Naga Baru Klinting, “jika kamu memang anakku, coba lingkari gunung ini dengan tubuhmu”.

    Naga Baru Klinting melaksanakan dan berhasil. Ki Hajar akhimya percaya, setelah melihat klintingan (lonceng kecil) yang dikalungkan Nyai Selakanta di leher Baru Klinting.

    Dan supaya dirinya berubah menjadi manusia, ia harus bertapa di Bukit Tugur. Naga Baru Khlintingpun dengan senang hati melaksanakan perintah ayahnya tersebut.

    Pada saat itu, penduduk desa yang berada di bawah Bukit Tugur sedang berburu binatang buruan di hutan.

    Tiba-tiba mereka melihat Naga Baru Klinting yang diam di dalam Gua. Oleh karena mereka tidak satupun mendapatkan binatang, akhirnya para penduduk itu memotong tubuh Naga Baru Klinting untuk di jadikan makanan.

    Kemudian para penduduk desa itu pulang dan mengadakan pesta besarbesar’an karena telah mendapatkan daging yang banyak.

    Ketika mereka sedang menikmati makanan pesta, datanglah seorang anak kecil yang kumel dan bau. Anak itu mendekat dan berharap untuk diberikan makanan. Namun penduduk desa menolaknya,

    ”Pergilah kau dasar pengemis!, tubuhmu kotor dan bau!”. Melihat kejadian itu seorang nenek tua yang bemama Nyai Latung merasa kasihan.

    ”Nak ikutlah ke rumah nenek!” kata nenek itu. Anak itu lalu mengikuti ke rumahnya. Disana ia diberi makanan yang banyak. hingga menghabiskan semua makanan yang dihidangkan.

    “Terimakasih, Nenek sangat baik tidak seperti penduduk desa itu!” kata anak itu. Sebelum pergi anak itu berpesan bahwa jika nanti mendengar suara gemuruh, carilah sebuah lesung dan naiklah diatasnya.

    Kemudian anak tersebut kembali ke pesta yang meriah itu. Ia kembali meminta makanan kepada warga desa. ”Pak kasihanilah saya pak?, berilah makanan sedikit saja”.

    Akan tetapi, penduduk desa itu makin menjadi marah, “kamu lagi, sana pergi jauh. kamu sudah mengganggu pesta disini”, kata seorang warga desa sambil menendang anak itu hingga tersungkur.

    Anak itu kemudian bangkit dan mengeluarkan sebuah lidi lalu ditancapkannya di tanah, ‘Wahai kalian penduduk desa, jika kalian bisa mencabut lidi ini, Aku akan pergi dan tidak mengganggu kalian lagi”, pinta anakitu.

    Satu persatu warga desa mencoba mencabut lidi itu. Tetapi anehnya tidak ada seorangpun dapat mencabutnya.

    “Payah kalian, hanya mencabut lidi sekecil itu saja tidak mampu,“ ejek anak itu Akhirnya anak itu mencabut lidi yang tertancap di tanah. Tiba-tiba lubang tanah bekas tancapan lidi tersebut mengeluarkan air yang semakin lama semakin deras.

    Air tersebut berubah menjadi banjir yang besar hingga menenggelamkan seluruh desa yang angkuh tersebut. Tak seorangpun dapat selamat kecuali nenek tua yang menaiki Iesungnya.

    Tak lama setelah itu, Ki Hajsar mendatangi anak kecil tersebut dan mengajaknya pergi menemui Nyai Selakanta.

    Ternyata anak kecil itu adalah penjelmaan dari Naga Baru Klinting yang tubuhnya telah dimakan penduduk desa. Hingga saat ini rendaman air itu masih ada dan menjadi telaga yang dikenal dengan Telaga Rawa Pening.

    Asal Usul Kota Balikpapan Yang Jarang Diketahui

    Kota Balikpapan sebenarnya hanyalah sebuah kotamadya, meski demikian kota Balikpapan Iebih ramai ketimbang ibukota.

    KalimantanTimur yaitu kota Samarinda. Sarana dan prasarana kota Balikpapan lebih lengkap, seperti bandar udara, pelabuhan, dan hotel-hotel bertaraf internasional.

    Sehingga orang-orang di luar Kalimantan TImur lebih mengenal Balikpapan daripada Samarinda. Kota ini memang lebih dulu dikenai jauh sebelum Samarinda berkembang seperti sekarang.

    Balikpapan adalah kota perusahaan minyak bumi, sumber devisa bagi Kalimantan TImur, atau sebuah kota Pertamina sejak tahun 1889. Pada saat itu pemerintahan dipimpin Sultan Kutai Kartanegara ke17, Sulan Am Sulaiman.

    Dahulu, di Tanah Pasir, Kalimantan Timur, ada sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh Raja Aji Muhammad yang terkenal adil dan bijaksana.

    Karena kepemimpinan sang raja, negeri itu senantiasa aman, makmur, dan sentosa. Penduduknya hidup dari hasil laut dan pertanian yang melimpah.

    Negeri itu memiliki wilayah yang cukup luas, salah satunya adalah sebuah teluk dengan pemandangan yang sangat indah.

    Raja Aji Muhammad memiliki seorang putri bernama Aji Tatin. Dialah calon tunggal pewaris tahta kerajaan.

    Itulah sebabnya, semua kasih sayang ayah dan ibunya tercurah kepada Aji Tatin. Puluhan dayang-dayang istana selalu mendampingi Aji Tatin untuk menjaga, merawat, melindunginya dan memastikan segala keperluan Aji Tatin terpenuhi.

    Setelah beranjak dewasa, Putri Aji Tatin dinikahkan dengan seorang putra bangsawan dari Kutai. Sebagai putri tunggal, pesta pernikahan Aji Tatin dilangsungkan sangat meriah.

    Puluhan sapi dan kerbau disembelih untuk dihindangkan kepada para tamu undangan dari berbagai penjuru negeri.

    Tidak hanya para pembesar dari kerajaan tetangga, tetapi juga seluruh rakyat negeri itu turut berpesta. Hari itu merupakan hari indah dan bahagia bagi kedua mempelai.

    Saat pesta sedang berlangsung, Raja Aji Muhammad bangkit dari singgasananya untuk memberikan hadiah kepada putri tercitanya.

    “Putriku, Aji Tatin, di hari yang penuh bahagia ini Ayah memberikan wilayah teluk yang indah dan mempesona itu sebagai hadiah pernikahanmu,” kata sang Raja di hadapan putri dan disaksikan oleh seluruh undangan,

    “Kini, teluk itu telah menjadi wilayah kekuasaanmu. Engkau pun boleh memungut upeti dari rakyatmu.”

    “Terima kasih, Ayahanda. Semoga Ananda bisa menjaga amanat ini,” ucap Putri Aji Tatin dengan perasaan bahagia.

    Sejak itulah, Putri Aji Tatin menjadi raja di teluk tersebut. Untuk memungut upeti dari rakyat, ia dibantu oleh suaminya dan seorang abdi setia bernama Panglima Sendong.

    Ketika itu, upeti yang dipungut dari rakyatnya berupa hasil bumi, terutama kayu yang sudah berbentuk papan. Papan tersebut akan digunakan untuk membangun istana.

    Suatu hari, orang-orang kepercayaan Putri Aji Tatin yang dipimpin oleh Panglima Sendong sedang memungut upeti dari rakyat.

    Upeti berupa papan tersebut diangkut melalui laut dengan menggunakan perahu. Namun, ketika mereka telah hampir sampai di teluk, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang.

    Selang beberapa saat kemudian, gelombang laut yang amat dahsyat menerjang perahu yang mereka tumpangi. Seluruh penumpang perahu menjadi sangat panik.

    “Ayo, cepat dayung perahunya ke teluk!” teriak Panglima Sendong. Mendengaru seruan itu, para pendayung lalu segera mendayuh perahu mereka dengan cepat. Namun, semuanya sudah terlambat.

    Sebelum perahu itu mencapai teluk, gelombang laut yang semakin besar menabrak bagian lambung perahu. Air laut pun masuk dan memenuhi seluruh bagian perahu. Tak ayal, perahu yang dipenuhi papan kayu itu pun terbalik.

    Perahu yang sudah hampir tenggelam itu kemudian terbawa gelombang laut dan akhirnya terhempas ke sebuah karang di sekitar teluk sehingga pecah berantakan.

    Tokong (galah) para pendayung pun patah. Papan kayu yang memenuhi perahu itu sebagian hanyut ke laut dan sebagian yang lain terdampar di tepi teluk.

    Sementara itu, tak seorangpun dari penumpang perahu selamat, termasuk Panglima Sendong.

    Putri Aji Tatin dan suaminya amat bersedih atas musibah yang menimpa panglima dan orang-orang kepercayaannya.

    Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka wilayah teluk tempat perahu itu terbalik dinamakan Balikpapan, yaitu dari kata balik dan papan.

    Sementara itu, karang tempat terhempasnya perahu itu semakin lama semakin besar sehingga menjadi sebuah pulau.

    Hingga kini, pulau itu disebut Pulau Tukung yang berasal dari kata tokong, yaitu tokong para awak perahu yang patah akibat terhempas di karang.

    Legenda Indonesia Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari

    Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa tinggallah seorang Janda bernama Mbok Randa. Ia tinggal seorang diri karena suaminya sudah lama meninggal dunia.

    Suatu hari, ia mengangkat seorang anak Laki-laki menjadi anaknya. Anak angkatnya diberi nama Jaka Tarub. Jaka Tarub pun tumbuh beranjak dewasa.

    Jaka Tarub menjadi pemuda yang sangat tampan, gagah, dan baik hati. Ia juga memiliki kesaktian. Setiap hari, ia selalu membantu ibunya di sawah. Karena memiliki wajah yang sangat tampan banyak gadis-gadis cantik yang ingin menjadi istrinya. Namun, ia belum ingin menikah.

    Setiap hari ibunya menyuruh Jaka Tarub untuk segera menikah. Namun, lagi-lagi ia menolak permintaan ibunya. Suatu hari Mbok Randa jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya. Jaka Tarub sangat sedih.

    Sejak kematian Mbok Randha, Jaka Tarub sering melamun. Kini sawah ladang­nya terbengkalai. “Sia-sia aku bekerja. Un­­tuk siapa hasilnya?” demikian gumam Jaka Tarub.

    Suatu malam, Jaka Tarub bermimpi memakan Daging Rusa. Pada saat ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung pergi ke hutan.

    Dari pagi sampai siang hari ia berjalan. Namun, ia sama sekali tidak menjumpai Rusa. Jangankan Rusa, Kancil pun tidak ada.

    Suatu ketika, ia melewati telaga itu dan secara tidak sengaja ia melihat para bidadari sedang mandi disana.

    Di telaga tampak tujuh perempuan cantik tengah bermain-main air, bercanda, ber­­suka ria. Jaka Tarub sangat terkejut melihat ke­­cantikan mereka.

    Karena jaka Tarub merasa terpikat oleh tujuh bidadari itu, akhirnya ia mengambil salah satu selendangnya.

    Setelahnya para bidadari beres mandi, merekapun berdandan dan siap-siap untuk kembali ke kahyangan.

    Mereka kem­bali mengenakan selendangnya masing-masing. Na­­­mun salah satu bidadari itu tidak mene­­mu­kan selendangnya.

    Keenam kakaknya turut membantu mencari, namun hingga senja tak ditemukan juga. Karena hari sudah mulai senja, Nawangwulan di tinggalkan seorang diri. Kakak-kakanya kembali ke Khayangan. Ia merasa sangat sedih.

    Tidak lama kemudian Jaka Tarub datang menghampiri dan berpura-pura menolong sang Bidadari itu. Di ajaknya bidadari yang ternyata bernama Nawang Wulan itu pulang ke rumahnya. Kehadiran Nawang Wulan membuat Jaka Tarub kembali bersemangat.

    Singkat cerita, merekapun akhirnya menikah. Keduanya hidup dengan Bahagia. mereka pun memiliki seorang putri cantik bernama Nawangsih.

    Sebelum mereka menikah, Nawang wulan mengingatkan kepada Jaka Tarub untuk tidak menanyakan kebiasan yang akan dilakukannya nanti setelahnya ia menjadi istri.

    Rahasianya Nawang Wulan yaitu, Ia memasak nasi selalu menggunakan satu butir beras, dengan sebutir beras itu ia dapat menghasilkan nasi yang banyak.

    Setelah mereka menikah Jaka Tarub sangat penasaran. Namun, dia tidak bertanya langsung kepada Nawang wulan melainkan ia langsung membuka dan melihat panci yang suka dijadikan istrinya itu memasak nasi.

    Ia melihat Setangkai padi ma­sih tergolek di dalamnya, ia pun segera menutupnya kembali. Akibat rasa penasaran Jaka Tarub. Nawang Wulan kehilangan kekuatannya. Sejak saat itu, Nawang Wulan harus menumbuk dan menampi beras untuk dimasak, seperti wanita umumnya.

    Karena tumpukan padinya terus berkurang, suatu waktu, Nawangwulan tanpa sengaja menemukan selendang bidadarinya terselip di antara tumpukan padi. ternyata selendang tersebut ada di lumbung gabah yang di sembunyikan oleh suaminya.

    Nawang wulan pun merasa sangat marah ketika suaminyalah yang mencuri selendangnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke kahyangan.

    Jaka Tarub pun meminta maaf dan memohon kepada istrinya agar tidak pergi lagi ke kahyanngan, Namun Nawangwulan sudah bulat tekadnya, hingga akhirnya ia pergi ke kahyangan.

    Namun ia tetap sesekali turun ke bumi untuk menyusui bayinya. Namun, dengan satu syarat, jaka tarub tidak boleh bersama Nawangsih ketika Nawang wulan menemuinya. Biarkan ia seorang diri di dekat telaga.

    Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadari pun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih.

    Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik.

    Dongeng Cerita Cindelaras

    Pada Zaman Dahulu, Di Sebuah Kerajaan Jenggala. Hiduplah Seorang Raja Yang Bernama Raden Putra. Ia Mempunyai Seorang Permaisuri Yang Sangat Baik Hati, Dan Seorang Selir Yang Cantik.

    Namun, Kecantikan Selir Tidak Sama Seperti Hatinya. Selir Mempunyai Sifat Yang Sangat Iri Pada Permaisuri.

    Kedua Istri Raja Tinggal Di Istana Yang Sangat Megah. Selir Mulai Merencanakan Kejahatan Untuk Menggantikan Posisi Permaisuri. Ia Bekerja Sama Dengan Seorang Tabib Istana, Untuk Melaksanakan Rencananya.

    Suatu Hari, Selir Raja Pura-Pura Sakit. Raja Segera Memanggil Tabib. Setelah Memeriksa Keadaan Selir, Raja Pun Menanyakan Apa Yang Terjadi.

    ‘’Paduka, Ada Seseorang Yang Sudah Menaruh Racun Pada Minuman Selir.’’ Jawab Tabib. ‘’Siapa Yang Berani Melakukan Ini Kepada Selirku?’’ Tanya Sang Raja.

    ‘’Yang, Melakukan Ini Pada Ku Adalah Permaisuri Mu Sendiri. Sepertinya Permaisuri Ingin Membunuhku, Agar Kasih Sayang Baginda Hanya Kepadanya, Dan Kekuasaan Kerajaan Jatuh Ke Tangannya.’’ Jawab Selir Raja.

    Mendengar Yang Di Katakan Selir, Raja Sangat Marah Dan Langsung Memerintahkan Patih Untuk Mengusir Permaisuri Yang Sedang Mengandung Dan Membunuhnya Di Hutan.

    Patih Pun Langsung Membawa Permaisuri Pergi Ke Hutan Belantara. Namun, Patih Yang Sangat Bijak Itu Tidak Membunuh Permaisuri. Ia Tahu Ini Rencana Jahat Selir Tersebut. Patih Pun Menangkap Seekor Kelinci.

    ‘’Permaisuri, Aku Tidak Akan Membunuhmu. Namun, Hamba Akan Memberitahukan Kepada Raja, Bahwa Anda Sudah Hamba Bunuh, Dan Untuk Membuat Raja Dan Selir Tuan Putri Sudah Mati. Hamba Akan Membunuh Seekor Kelinci Ini, Dan Melumuri Darahnya Pada Selendang Milik Permaisuri Dan Pedang Hamba.’’ Ujar Sang Patih.

    “Aku Sangat Berterima Kasih Patih, Karena Kau Tidak Membunuhku Dan Membiarkan Aku Hidup.’’ Jawab Permaisuri.

    ‘’Permaisuri, Saya Terpaksa Harus Meninggalkan Mu Di Hutan Belantara Ini Seorang Diri. Hamba Mohon Maaf Karena Tidak Bisa Menemani.’’ Kata Patih.

    Setelah Beberapa Bulan Permaisuri Tinggal Di Dalam Hutan, Ia Pun Melahirkan Seorang Anak Laki-Laki. Anak Itu Di Beri Nama Cindelaras. Cindelaras Tumbuh Menjadi Anak Yang Cerdas Dan Tampan. Sejak Kecil Ia Sudah Terbiasa Berteman Dengan Binatang.

    Suatu Hari, Cindelaras Sedang Asik Bermain. Tiba-Tiba, Seekor Rajawali Menjatuhan Sebutir Telur Tepat Di Sebelah Cindelaras.

    Cindelaras Langsung Mengambil Telur Itu Dan Menetaskannya. Tiga Minggu Kemudian, Menetaslah Telur Tersebut Menjadi Seekor Anak Ayam Yang Lucu.

    Cindelaras Merawat Ayam Tersebut Dengan Sangat Baik. Tubuh Ayam Itu Terlihat Kuat Dan Kekar, Paruhnya Kokoh Dan Runcing Seperti Paruh Burung Rajawali.

    Kedua Kakinya Kekar Berotot Dan Memiliki Kuku Yang Runcing Tajam Seperti Kuku Rajawali. Namun, Suara Kokoknya Sangat Berbeda Dengan Ayam-Ayam Lainnya.

    Suara Kokoknya Sangat Aneh, ‘’Kukuruyuk, Tuanku Cindelaras, Rumahnya Di Dalam Hutan Belantara, Atap Rumahnya Terbuat Dari Daun Kelapa, Ayahnya Raden Putra Raja Jenggala.” Bunyi Kokok Ayam Cendelaras.

    Cindelaras Sangat Terkejut Dan Langsung Menunjukannya Kepada Ibunya. Permaisuri Pun Merasa Sangat Terkejut Mendengar Suara Kokok Si Ayam.

    Ia Pun Langsung Menceritakan Siapa Ayahnya Dan Mengapa Mereka Tinggal Di Dalam Hutan. Mendengar Cerita Ibunya, Cindelaras Memutuskan Untuk Pergi Ke Istana Untuk Bertemu Ayahnya.

    Awalnya Ibunya Tidak Mengijinkan Cindelaras Pergi. Namun, Ia Terus Memaksa. Setelah Ibunya Mengijinkannya Pergi.

    Ia Langsung Berangkat Di Temani Ayam Jantannya. Namun, Di Tengah Perjalanan Cindelaras Bertemu Dengan Orang-Orang Yang Sedang Mengadu Ayam.

    Mereka Melihat Cindelaras Membawa Ayam Jagonya Dan Mengajaknya Ikut Menguji Kehebatan Ayamnya. ‘’Hei Kau, Apakah Berani Adu Ayam Dengan Ayam Jago Ku Yang Kuat Ini?’’ Ujar Mereka.

    ‘’Baiklah.’’ Jawab Cindelaras. Ternyata, Ayam Jantan Milik Cindelaras Dapat Mengalahlan Lawan Setelah Beberapa Kali Di Adu. Namun, Ayamnya Tidak Dapat Di Kalahkan.

    Berita Tentang Kehebatan Ayam Jantannya Cindelaras Terdengar Hingga Teling Raja Raden Putra. Raja Langsung Menyuruh Hulubalangnya Mengundang Cindelaras Datang Ke Istana. Cindelaras Pun Sampai Istana.

    ‘’Paduka, Hamba Menghadapmu.’’ Kata Cindelaras Dengan Sopan. ‘’Anak Ini Sangat Tampan Dan Cerdas, Sepertinya Ia Bukan Dari Kalangan Rakyat Biasa.’’ Ujarnya Dalam Hati.

    Akhirnya, Di Adulah Ayam Jantan Milik Cindelaras Melawan Ayam Jantan Milik Raja. Namun, Raja Mengajukan Satu Syarat Kepada Cindelaras.

    Jika Ia Kalah, Ia Harus Bersedia Menyerahkan Ayam Jantannya Dan Kepalanya Di Pancung. Namun, Jika Ia Menang. Raja Raden Putra Akan Memberikan Setengah Kekayaannya.

    Dua Ekor Ayam Jantan Bertarung Dengan Sangat Gagah. Dalam Beberapa Menit, Ayam Jantan Milik Cindelaras Dapat Mengalahkan Ayam Jantan Milik Raja. Penonton Pun Bersorak Memberikan Selamat Kepada Cindelaras.

    ‘’Baiklah, Aku Mengaku Kalah. Akan Ku Serahkan Setengah Kekayaan Ku Menjadi Milik Mu Cindelaras. Namun, Siapa Kamu Sebenarnya’’ Ujarnya Sang Raja.

    Cindelaras, Langsung Membungkuk Dan Membisikkan Sesuatu Kepada Ayamnya. Beberapa Menit Kemudian. Ayam Jantan Tersebut Mengeluarkan Suara.

    “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, Rumahnya Di Dalam Hutan, Atapnya Terbuat Dari Daun Kelapa, Ayahnya Raden Putra…,” Ayam Jantan Itu Berkokok Berulang-Ulang.

    Raden Putra Sangat Terkejut Mendengar Suara Kokok Ayam Cindelaras. ‘’Benarkah Itu ?’’ Tanyanya Dengan Sangat Heran Dan Penasaran.

    ‘’Benar Sekali Baginda. Hamba Cindelaras, Putra Dari Permaisuri Baginda.’’ Jawabnya Dengan Tegas. Raja Raden Putra, Langsung Memangil Patih. Patih Pun Langsung Menceritakan Kebenarannya.

    ‘’Aku Sudah Melakukan Kesalahan Dan Memberikan Hukuman Kepada Permaisuri Yang Tidak Bersalah. Aku Akan Memberikan Hukuman Yang Setimpal Kepada Selir’’ Ucapnya Menyesal.

    Raja Raden Putra Langsung Memeluk Cindelaras Dan Meminta Maaf Atas Semua Kesalahannya Itu. Raden Putra, Patih Dan Hulubalang Langsung Pergi Ke Hutan Dan Menjemput Permaisuri.

    Akhirnya Raja Raden Putra, Permaisuri Dan Cindelaras Hidup Bersama Dan Bahagia. Setelah Raden Putra Meninggal. Cinderalaslah Yang Menggantikan Ayahnya Sebagai Raja. Ia Memimpin Kerajaan Dengan Adil Dan Bijaksana.

    Legenda si Kabayan Membayar Hutang

    Pada suatu saat si Kabayan memiliki banyak hutang pada rentenir Arab sehingga membuatnya pusing memikirkannya. Hal ini karena hutang Kabayan terus bertambah karena adanya bunga berbunga.

    Bagaimana dia bisa membayar utangnya ketika dia tidak lagi memiliki satu hal pun yang bisa dia jual bahkan hanya untuk membayar sebagian dari jumlah utangnya?

    Dia berpikir dan berpikir, dan akhirnya dia menemukan sebuah rencana untuk melunasi hutang dan sekaligus memberi pelajaran pada rentenir.

    “Akhirnya!” katanya kepada istrinya. “Sekarang aku tahu apa yang harus dilakukan!” Istrinya menyetujui usulnya, bahkan menyambutnya dengan sangat antusias, dan melanjutkan untuk membantunya melaksanakannya.

    Pertama-tama dia mengisi bak cuci dengan arak dan menebarkan kapuk ke lantai di sebelah bak mandi.

    Si Kabayan mandi dalam anggur, dan menggulung tubuhnya yang basah di sekitar dan di dalam kapuk sampai ia putih berbulu.

    Kemudian dia merangkak ke dalam kandang ayam besar. Tidak lama kemudian orang Arab datang ke rumah Si Kabayan untuk menaih hutang.

    “Kabayan tidak di rumah,” kata istrinya kepada orang Arab itu. “Dimana dia ?” tanya si Arab. “Dia pergi untuk tampil di hadapan Raja.”

    “Sang Raja?” tanya orang Arab itu dengan heran. “Apa yang telah terjadi ?” “Dia pergi untuk melaporkan kepada Raja bahwa dia telah menemukan dan menangkap burung yang sangat langka.”

    “Burung langka? Burung jenis apa? ” Orang Arab menunjukkan keinginannya untuk melihat burung aneh, tetapi istri Si Kabayan menolak.

    Kabayan hanya akan menunjukan hewan langka dan indah ini kepada Raja, dan jika dia membiarkan orang Arab melihatnya, dia berkata, Kabayan akan sangat marah, karena Kabayan telah mengatakan secara khusus bahwa tidak ada orang lain yang melihat burung di hadapan Raja sendiri .

    Penjelasan ini hanya meningkatkan keinginan orang Arab untuk melihat burung Kabayan. Dan dengan sedikit memaksa, akhirnya istri kabayan bersedia menunjukan burung ajaib itu kepada rentenir.

    Membiarkan dirinya dibujuk, istri Kabayan membawa si Arab ke bagian belakang rumah, di mana dia menunjuk ke kandang ayam yang ditutupi dengan selembar kain.

    Penuh rasa ingin tahu, orang Arab itu mengangkat ujung kain. Saat dia mengangkatnya sedikit lebih tinggi, Si Kabayan keluar dari kandang, dan berteriak “ba-ra-ka-tak-tak; ba-ra-ka-tak-tak ”, dia berlari keluar dari pandangan.

    Istri Si Kabayan mulai menangis. “Oh, oh,” isaknya. “Lihat apa yang telah kau lakukan! Apa yang akan saya sampaikan kepada Kabayan, dan apa yang akan dikatakan Raja.

    Saya harus memberi tahu dia bahwa semua kesalahan Anda bahwa burungnya berhasil lolos. Dan kemudian Kabayan harus memberi tahu Raja. Oh, oh! “

    Orang Arab itu ketakutan. “Tolong jangan,” pintanya. “Tolong jangan beri tahu Kabayan dan Raja. Sebagai gantinya semua hutang Kabayan saya anggap lunas.

    Tapi jangan laporkan ini kepada Kabayan dan Raja.” Ucap si Rentenir Arab ketakutan Akhirnya hutang si Kabayan kepada Rentenir Arab pun lunas.

    Itulah legenda dari si Kabayan Membayar Hutang yang berasal dari Jawa Barat. Dari sini kita bisa belajar bahwa sebenarnya apa yang dilakukan kabayan itu tidak baik karena telah berbohong, namun, kecerdikannya dalam menghindari masalah dapat kita ambil.

    Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang suka dengan berbagai cerita legenda dari Jawa Barat.

    Legenda Rakyat Putri Niwerigading

    Cerita Rakyat kali ini berkisah perihal Putri Niweri Gading. Al Kisah, dulu di Negeri Alas -termasuk wilayah Nangro Aceh Darussalam, ada seorang raja yang arif dan dicintai rakyatnya. la menyuruh dengan adil dan arif, sehar-hari pikirannya dicurahkan untuk memajukan negeri dan kemakmuran rakyatnya.

    Namun sayang sang raja tak memiliki putera. Mereka sedih, atas nasehat orang jago raja dan permaisuri kemudian tekun berdo’a sambil berpuasa. Beberapa bukan kemudian permaisuri mengandung. Setelah sampai waktunya permaisuri melahirkan anak laki-Iaki yang diberi nama Amat Mude.

    Belum genap setahun umurAmat Mude. ayahnya meninggal dunia. Sebab Amat Mude. masih bayi karenanya adik sang raja atau paman (Pakcik) Amat Mude. diangkat menjadi raja sementara.

    Pakcik itu bernama Raja Muda. Setelah diangkat menjadi raja ia bahkan berperilaku kejam kepadaAmat Mude. dan ibunya.

    Mereka diasingkan ke sebuah hutan terpencil. Raja Muda berharap menguasai sepenuhnya kerajaan yang sebenarnya menjadi hak Amat Mude.

    Walau dibuang jauh dari istana permaisuri tak mengeluh, ia terima cobaan berat itu dengan sabar dan sabar. la besarkan Amat Mude. dengan penuh kasing sayang. Tahun demi tahun berlalu. tak terasa Amat Mude. tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.

    Amat Mude menyukai memancing ikan di sungai. Pada suatu hari, permaisuri dan Amat Mude pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa dikira, ia berjumpa dengan saudagar kaya. Ternyata ia bekas sahabatsuaminyadulu.

    “Kenapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu keheranan.

    Permaisuri menyebutkan semua kejadian yang telah menimpanya. Mendengar hal itu, sang saudagar lantas mengajak mereka ke rumahnya dan membeli semua ikannya.

    Setibanya di rumah, saudagar ltu menyuruh istrinya lantas memasak ikan hal yang demikian. Saat sedang memotong perut ikan, sang istri merasa heran karena dari perut ikan itu keluar telur ikan yang berupa emas murni.

    Kemudian, butiran emas hal yang demikian dijual ke pasar oleh istri saudagar. Uangnya ia gunakan untuk membangun rumah permaisuri dan putranya. Sejak ketika itu, permaisuri dan Amat Mude telah berubah menjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari ikan.

    Cerita perihal kekayaan permaisuri dan putranya sampai ke alat pendengaran Raja Muda. Pada suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. la memerintahkan Amat Mude memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri Raja Muda, di sebuah pulau yang terletak di tengah laut.

    Konon, lautan di sekitar pulau ltu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa bahkan yang via lautan itu pasti celaka.

    Raja Muda mengancam Amat Mude kalau tak berhasil, ia akan dihukum mati. TapiAmat Mude tak peduli dengan ancaman itu. Niatnya berlapang dada hendak membantu istri Raja Muda. Dia bahkan lantas berangkat meninggalkan istana.

    Setibanya di pantai, ia duduk termenung. Tiba-tiba, timbul di hadapannya seekor ikan besar bernama Amat lenggang Raye, didampingl oleh Raja Buaya, dan seekor Naga besar.

    Singkat cerita, Amat Mude telah menemukan pohon kelapa gading dengan bantuan Silenggang Raye, Raja Buaya, dan seekor nagaSelanjutnya, Amat Mude memanjat pohon. Saat sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.

    “Siapa bahkan yang berhasil memetik buah kelapa gading, ia akan menjadi suamiku.” “Siapakah Engkau?” tanya Arnat Mude. “Amat Putri Niwer Gading,” jawabnya suara dari bawah pohon kelapa.

    Amat Mude cepat-cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas pohon kelapa. Amat takjubnya Amat Mude melihat kecantikan Putri Niwer Gading.

    Amat, Amat Mude bahkan mengajak sang putri pulang ke rumahnya untuk dipersunting. Setelah menikah, Amat Mude beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading.

    Kedatangan Amat Mude membikin Raja Muda terheran-heran. Orang yang berhasil via rintangan di pulau angker pastilah orang sakti.

    la tak berharap main-main Iagi. Kesudahannya tak alasan untuk menghukum mati keponakannya itu. Amat Raja Muda sadar akan kesalahanya. la memohon maaf kepada permaisuri dan Amat Mude. Beberapa hari kemudian Amat Mude dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas.

    Hikmah : Saat petaka terjadi yang di perlukan kesabaran dan dengan bekerja keras kita akan sampai pada pembetulan nasib

     

    Legenda Rakyat Si Lancang

    Dongeng memang tersedia sangat banyak di Indonesia. Dan setiap cerita biasanya memiliki pesan moralnya masing – masing.

    Tak terkecuali dengan aderah Riau yang juga memiliki banyak sekali cerita legenda maupun dongeng yang turun temurun.

    Salah satunya adalah legenda rakyat si Lancang yang kurang lebih jalan ceritanya mirip dengan Malin Kundang.

    Pada zaman dulu, di daerah Kampar, hiduplah Menurut Lancang dengan ibunya. Mereka sehari-hari hidup prihatin mengandalkan penghasilan yang minim sebagai buruh tani. Situasi ini membikin Menurut Lancang berdaya upaya untuk memperbaiki nasib dengan pergi merantau.

    Pada suatu hari, Menurut Lancang berangkat ke negeri orang. Diceritakan, Menurut Lancang berprofesi keras bertahun-tahun lamanya.

    Semua perjuangannya tak sia-sia, dia berhasil menggapai cita-citanya menjadi orang kaya. Ia menjadi saudagar yang mempunyai berpuluh-puluh kapal dagang. Akan melainkan, dia lupa pada ibunya dan segala janji manisnya dulu.

    Pada suatu hari, Menurut Lancang singgah di Kampar. Isu kedatangan Menurut Lancang terdengar oleh ibunya.

    Ia menyangka bahwa Menurut Lancang pulang untuk dirinya. Dengan memberanikan diri, dia naik ke geladak kapal mewah Menurut Lancang. Menurut ibu lantas menghampiri Menurut Lancang dan ketujuh istrinya.

    Betapa terkejutnya Menurut Lancang ketika menyaksikan bahwa perempuan berpakaian compang camping itu adalah ibunya. Akan melainkan, kemauan ibu Menurut Lancang cuma tinggal kemauan. Rasa malu dan naik pitam bahkan tak dapat dia tahan. Ibunya lantas menghampirinya.

    “Engkau Lancang, Anakku! Oh… alangkah rindunya hati emak padamu.” Mendengar sapaan itu, si Lancang semacam itu tega menepis pengakuan ibunya sambil berteriak.

    “Mana mungkin saya mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan edan ini!”

    Dengan perasaan hancur, ibunya pergi meninggalkan segala angan-angan seputar si kecilnya. Luka hati seperti disayat sembilu.

    Setibanya di rumah, hilang telah akal sehatnya dan kasih sayangnya karena perlakuan buruk yang diterimanya.

    Ia mengambil pusaka yang dimilikinya berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Diputarnya lesung itu dan dikibas-kibaskan nyiru itu sambil berkata, “Ya Tuhanku… hukumlah si buah hati durhaka itu.”

    Tak perlu waktu lama, Kuasa mengabulkan permintaan ibu tua renta itu. Dalam sekejap, turunlah badai topan.

    Badai hal yang demikian meluluh lantakkan kapal-kapal dagang milik Menurut Lancang dan harta benda miliknya.

    Hingga cerita rakyat setempat, kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang berlokasi di Kampar Kiri.

    Gongnya terhempas ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Ogong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah, meski tiang bendera kapal si Lancang terhempas sampai sampai di sebuah danau yang dikasih nama Danau Menurut Lancang.  kini, nama nama daerah itu masih ada dan dapat kita disaksikan.

    Kisah Si Lancang adalah hendaknya kita menjadi anak yang berbakti kepada orangtua, terutama kepada ibu, karena itu adalah kewajiban kita dan pasti akan mendapat pahala. Sebaliknya, menjadi anak durhaka akan membawa malapetaka.

    Itulah bagaimana cerita dari Si lancing. Dari sini kita harus bisa lebih belajar untuk lebih menghormati orang tua kita.

    Karena, mereka lah yang selama ini menjaga kita dan merawat kita hingga tumbuh dewasa. Jika taka da mereka, belum tentu kita masih bisa hidup sampai saat ini. jadi, hargailah dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kalian.

    Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang saat ini ingin tahu lebih banyak mengenai cerita rakyat.

    Cerita Rakyat si Rusa dan Kulomang

    Diceritakan di sebuah hutan di Kepulauan Aru, hiduplah sekelompok hewan. Mereka hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

    Namun, akhir – kahir ini sesuatu mengusik mereka, yaitu kesombongan sekelompok rusa yang merasa diri mereka sebagai hewan paling hebat hanya karena mereka mampu berlari cepat.

    Pada saat itu memang tidak ada hewan lain yang bisa menandingi kecepatan mereka. Semakin hari, kesombongan mereka semakin menjadi – jadi.

    Mereka terus saja mengajak hewan lain berlomba lari dan mengejek mereka. Lama kelamaan mereka juga menjadi tamak.

    Rusa bukan hanya menantang hewan lain berlomba lari, mereka juga menyita tempat tinggal hewan yang kalah dalam perlombaan itu.

    Akhirnya, hewan – hewan lain tak memiliki tempat tinggal. Sebaliknya, rusa – rusa itu menjadi penguasa hutan tersebut.

    Sementara itu, tak jauh dari hutan, tepatnya di tepi Pulau Aru, hiduplah sekelompok siput laut. Tempat tinggal mereka indah dan udaranya masih segar.

    Walaupun siput laut yang tinggal di sana cukup banyak, mereka saling setia kawan. Sekelompok rusa yang mengetahui wilayah itu, ingin menguasainya. Seperti biasa, pemimpin rusa berniat mengajak siput laut untuk berlomba lari melawannya.

    Dalam hati ia tertawa, “Bukankah siput jalannya sangat lambat? Aku akan mengalahkan mereka dengan mudah,” pikirnya. Lalu ia menemui pemimpin siput Laut yang bernama Kulomang.

    Di luar dugaan, Kulomang menerima tantangannya. “Baiklah jika itu maumu. Jika kau menang, ambillah wilayah kami ini,” jawab Kulomang mantap.

    Sebenarnya, rusa terkejut mendengar jawaban Kulomang, namun ua tertawa dalam hati. “Hihihi… benar-benar tak tahu diri.

    Berani sekali ia mempertaruhkan wilayahnya. Kita lihat saja besok.” Rusa tak tahu, meskipun siput Laut berjalan sangat lambat, mereka memiliki akal yang cerdik.

    Keesokan harinya, pemimpin rusa telah siap di tempat pertandingan. Rusa – rusa yang lain ikut memberi semangat.

    Kulomang datang sendiri, taka da teman yang menemaninya. “Hei, mana teman-temanmu?” tanya rusa heran.

    “Itu tak penting, yang penting adalah kalahkan aku dan wilayah ini akan jadi milikmu,” jawab Kulomang santai.

    Ternyata, diam – diam Kulomang telah mengatur strategi bersama teman –temannya. Ia sebenarnya membawa sepuluh temannya, namun mereka bersembunyi untuk mendengarkan aturan pertandingan.

    Setelah mendengar semuanya, kesepuluh siput laut itu menempatkan diri masing – masing di tempat perhentian yang telah ditentukan. “Siap? Satu dua tigaaaa. lari!” teriak salah satu rusa memberi aba-aba.

    Rusa lari dengan santai. Ia pikir, untuk apa cepat-cepat? Toh siput laut berlari sangat lambat. Kulomang berlari dengan tenang.

    Rusa mengejeknya “Menyerah sajalah, daripada kau buang-buang tenaga. Kau tak mungkin menang.”

    Kulomang hanya tersenyum. Kemudian rusa berlari kencang meninggalkannya. Tak terasa, rusa telah tiba di perhentian pertama. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum, “Pasti siput itu masih jauh di belakang,”

    “Siapa bilang aku masih di belakang?” tiba- tiba terdengar jawaban Kulomang. Sebenarnya itu bukan Kulomang, melainkan temannya yang menunggu di pemberhentian pertama. Rusa terkejut setengah mati, ia heran bagaimana Kulomang bisa mendahuluinya?

    Tak mau kalah, ia berlari melesat menuju pemberhentian kedua. “Hehe… kali ini pasti ia kalah,” ejek rusa sambil menengok ke belakang lagi. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba Kulomang sudah berjalan di depannya dan menuju ke pemberhentian ketiga.

    “Aku ada di depanmu rusa,” teriak Kulomang. Rusa terkejut. Ia berlari lagi secepat mungkin, ia tak mau kalah dari Kulomang. Namun setiap kali ia tiba di perhentian, selalu saja Kulomang sudah ada di depannya.

    Rusa kelelahan, namun ia terus berlari kencang, akhirnya ia tuba di perhentian terakhir. Matanya terbelalak ketika ia melihat kulomang telah menantinya di situ.

    Karena kelelahan, rusa pun jatuh tersungkur. Ia malu, apalagi ternyata hewan – hewan yang lain juga menyaksikan pertandingan itu.

    Mereka tertawa mengejek rusa, “Hei rusa yang sombong, sekarang kau sadar kan, kau bukanlah hewan tercepat. Siput yang lambat ini justru lebih cepat darimu.”

    Rusa sangat malu, rupanya ia bukanlah hewan terhebat. Demikian juga dengan teman-temannya, mereka tak lagi sombong.

    Mereka bahkan mengembalikan wilayah-wilayah yang direbut dari hewan-hewan yang lain. Sejak saat itu, keadaan di hutan kembali damai seperti dulu. Tentunya tak seekor hewan pun yang membocorkan rahasia Kulomang pada rusa-rusa itu.

    Itulah cerita legenda mengenai Rusa dan Kulomang, apa yang bisa kalian ambil dari sini?

    Legenda Telaga Biru Asal Maluku

    Dahulu kala, diceritakan di Provinsi Maluku, tepatnya di daerah Halmaheran terdapat sebuah air di antara pembekuan lahar panas.

    Karena mengenang dalam waktu yang cukup lama sheingga membuat airnya menjadi berubah warna menjadi biru.

    Karena peristiwa ini aneh, penduduk desa di daerah sana membuat acara ritual untuk menemukan jawaban atas kejadian ini.

    “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air. Itulah arti kejadian tersebut, yang ditemukan berkat ritual.

    Setelah ritual itu selesai dilakukan, maka Kepala Desa akan menyuruh warganya untuk berkumpul di pusat desa.

    Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya, “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”.

    Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Akhirnya diketahui bawa ada dua keluarga yang anggotanya belum lengkap.

    Mereka adalah Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Setelah itu salah seorang dari warga bercerita tentang mereka berdua.

    Dahulu, ada sepasang kekasih yang berjanji untuk sehidup semati. Mereka bernama Majojaru dan Mahohiduuru.

    Suatu hari Mahohiduuru pergi berkelana ke negeri seberang. Selama hampir sat tahun Mahohiduuru belum juga kembali.

    Majojaru yang terus menunggu dengan setia lama kelamaan mnejadi cemas. Suatu hari Majojaru melihat kapal yang dinaiki Mahohiduuru datang.

    Namun setelah bertanya dengan awak kapal ia mendengar bahwa Mahohiduuru sudah meninggal dunia ketika di negeri seberang.

    Mendengar Kabar tentang Magohiduuru, Majojaru terhempas ke tanah. Mereka berjanji sehidup semati, tetapi sekarang Magohiduuru telah tiada. Kabar yang di dengarnya membuat dia seakan – akan kehilangan dirinya sendiri dan tujuan hidupnya.

    Hati yang sedih menyelimuti raut muka Majoraru, muka yang tidak memiliki harapan hidup tampak di raut wajahnya.

    Lalu perlahan – lahan ia berjalan menuju ke rumahnya, di tengah perjalanan ia berteduh di sebuah pohon, dan bebatuan.

    Merenung dan meratapi nasibnya, pikirannya melayang laying lalu teringat akan kekasihnya Magohiduuru.

    Air mata keluar dari matanya setetes demi setetes hingga tiga hari tiga malam telah terlewati. Air matanya terus mengalir, lama kelamaan, semakin banyak hingga menggenangi dirinya sendiri.

    Majojaru larut dalam kesedihan, dan tanpa di sadari air matanya menggenang tinggi, hingga menenggelamkan bebatuan tempat ia duduk, lama kelamaan ia pun ikut tenggelam dan meninggal dunia di sana.

    Telaga kecil pun terbentuk dari Air mata Majojaru. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa.

    Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga itu. Telaga yang berasal dari tetesan air mata itu lama – lama airnya berubah menjadi kebiru – biruan, sehingga penduduk di dearah sana, memberi nama Telaga Biru.

    Dari sini kita bisa mengambil makna dimana kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Karena, sesedih apapun kita, dunia tetap berjalan seakan tak terjadi apa apa walaupun dunia kita sedang hancur.

    Karena itulah, kita harus selalu berjalan ke depan dan tidak terlalu berlarut di satu tempat. Apapun masalahnya, pasti akan ada jalan keluarnya.

    Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat serta bisa memotivasi terutama bagi kalian yang saat ini mungkin sedang tertimpa masalah atau bersedih.

     

    Cerita Rakyat Legendaris: Si Kelingking

    Belitung yang dulunya dikenal dengan Billiton merupakan nama dari sebuah Pulau di  provinsi Bangka Belitung, Indonesia.

    Pulau yang berada di bagian Timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

    Di pulau ini, ada sebuah cerita rakyat yang menceritakan tentang sepasang suami istri yang ingin membunuh anaknya namun tak pernah behasil.

    Dikisahkan, di sebuah desa di pulau Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang miskin. Namun, walaupun miskin mereka tetap rukun dan bahagia.

    Sayangnya, kebahagiaan tersebut belum terasa lengkap karena mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

    Karena itulah, setiap malamnya mereka berdua selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar dikaruniai seorang anak.

    “Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!” itulah doa yang selalu mereka panjatkan.

    Lalu, suatu hari istrinya hamil dan sepasang suami istri tersebut tentu saja sangat senang karena mereka tak lama lagi akan mendapatkan seorang anak.

    Lalu, beberapa bulan kemudian istrinya melahirkan. Namun, betapa terkejutnya mereka karena melihat bayinya hanya sebesar kelingking. Karena itulah, mereka menamai anak mereka dengan kelingking.

    “Bang! Kenapa anak kita kecil sekali bang?” tanya istrinya sedih. Suaminya hanya terdiam seakan tak percaya. Ia lalu teringat sesuatu.

    “Dik! Ingatkan doa kita selama ini? bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” kata suaminya.

    “Oh iya, rupanya Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.” Kata sang Istri. Mereka pun merawat anak itu dengan sebaik – baiknya.

    Si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh. Walaupun badannya sangat kecil, tetapi si Kelingking mampu menghabiskan makanan yang banyak.

    Orang tuanya jadi sering kerepotan. Mereka miskin. Untuk makan sehari-hari saja susah. Ditambah kerakusan si kelingking maka kesabaran mereka jadi hilang.

    Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuang jauh-jauh Si Kelingking. Pada suatu hari, sang ayah mengajak si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu.

    Setibanya di tengah hutan, sang ayah segera menebang pohon besar yang diarahkan kepada anaknya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa si Kelingking.

    Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang ayah segera kembali ke rumahnya. Mendengar cerita suaminya, sang istri pun menjadi lega, Mereka upa bahwa perbuatan membunuh anak mereka sendiri adalah tercela.

    “Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang istri kepada suaminya. Baru saja kata-kata itu terlontar dari mulut istrinya, tiba-tiba terdengarsuara terjakan dari luar rumah. “Ayah !Ayah ! Diletakkan di mana kayu ini?” Suara keras terdengar dari luar rumah.

    Istrinya pun bertanya penuh rasa heran, “Bang! Bukankah anak Itu sudah mati?” tanya istrinya heran. “Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang suami penasaran.

    Mereka sangat terkejut melihat si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya. Setelah meletakkan kayu itu, si Kelingking langsung mencari makanan di rumahnya.

    Karena merasa kelaparan, ia pun menghabiskan sebakui nasi. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk terbengong-bengong melihat anaknya, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

    Walaupun sudah beberapa kali disingkirkan, namun si kelingking tetap embali lagi. Ketika melihat si Kelingking begitu lahapnya makan dan seolah tak pernah tahu niat jahat orang tuanya, akhirnya mereka sadar.

    Si Kelingking adalah darah dagingnya, sudah seharusnya ia dipelihara dengan baik. Sejak saat itu, mereka menerima keadaan si Kelingking apa adanya.

    Ternyata keberadaan si Klingking sangat berguna, dengan tenaganya yang besar, si Kelingking mampu melakukan pekerjaan yang berat. Pada akhirnya kehidupan mereka menjadi lebih baik, si Kelingking menjadi sumber tambahan penghasilan keluarganya.

     

    Kisah Penyumpit dan Putri Malam

    Dikisahkan, pada zaman dulu hiduplah seorang pemuda yang sebatang kara bernama Penyumpit. Ia tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tuanya.

    Saat masih hidup, ayah penyumpit seringkali berhutang kepada seorang kepala desa Pak Raje yang merupakan orang yang kaya raya namun pelit dan licik.

    Hutangnya tak pernah lunas karena ia selalu melipatgandakannya. Walaupun kedua orang tua Penyumpit telah tiada, namun utangnya tak pernah dianggap lunas.

    Penyumpit harus mmebayar utang ayahnya dengan cara menjaga sawah milik Pak Raje yang padinya sudah mulai menguning. Penyumpit harus menjaganya siang dan malam.

    “Hai Penyumpit, berhati-hati menjaga sawahku. Kalau sampai sawahku rusak, aku akan mendendamu. Kamu harus membayar semua kerusakan itu,” demikian pesan Pak Raje sebelum Penyumpit berangkat ke sawah.

    Padahal, Pak Raje tahu, kemungkinan besar sawahnya bisa rusak karena dimasuki babi-babi hutan. Jika tugas yang satu sudah selesai maka Pak Raje akan memberikannya tugas baru.

    Sekarang ini, tugas penyumpit cukup berat dumana ia harus menuai padi yang siap panen, di malam hari ia harus menjaga sawah agar tidak dirusak oleh babi hutan.

    Seminggu sudah Penyumpit melaksanakan tugasnya dengan baik Pada hari kedelapan ketika sedang asyik duduk di dangau mengawas, sawah Pak Raje, tampak sesosok babi hutan memasuki wilayah persawahan Pak Raje.

    Dengan cekatan Penyumpit melemparkan tombak yang ia bawa ke arah babi hutan. Dari kejauhan terdengar pekik kesakitan babi hutan.

    Ternyata, mata timba Penyumpit telah mengenai kaki babi hutan. Penyumpit lalu dengan cepat berlari ke arah babi hutan yang terluka

    Namun, babi tersebut sudah hilang dan lenyap. Hanya ada tetesan darah dari tubuh babi hutan itu yang bercecerak di sepanjang jalan.

    Penyumpit lalu mengikuti jejak tetesan darah tersebut hingga ke dalam hutan. Ia ingin mengetahu letak persembunyian para babi hutan.

    Semakin lama semakin dalam ia masuk ke hutan hingga suatu ketika ia dikagetkan oleh berubahnya babi yang ia lukai menjadi seorang putri yang cantik. Ia pun terdiam sejenak seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

    “Wahai putri yang cantik, kaukah babi yang terluka tadi?” tanya Penyumpit. “Benar …… Akulah yang tadi menjelma menjadi seekor babi. Namaku Putri Malam, ucap gadis cantik itu sambil merintih kesakitan.

    “Maafkan aku Putri. Aku telah melukaimu. Mari aku bantu mengobati luka di kakimu,” ucap Penyumpit menawarkan diri untuk membantu.

    Secara hati – hati dan perlahan, penyumpit membersihkan luka serta menghentikan darah yang mengalir di kaki Putri Malam.

    Ia menggunakan tumbuhan sekitar yang berkhasiat obat untuk menyembuhkan luka sang putri. Besoknya, putri sudah bisa kembali berjalan.

    Sebagai tanda terima kasi, ia memberikan beberapa bungkusan yang berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering kepada Penyumpit.

    “Ingat ya ! Kamu baru boleh membuka bungkusan ini setelah tiba di rumah,” pesan sang putri. Penyumpit pun kembali ke rumah dan mematuhi pesan putri malam.

    Saat di rumah, ia membuka bungkusan itu dan rempah – rempah tersebut berubah menjadi emas, permata, berlian, dan intan. Kini ia menjadi kaya.

    Kemudian ia membayar semua hutang almarhum ayahnya. Namun, Pak Raje tak habis pikir bagaimana bisa Penyumpit melunasinya.

    “Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Jangan-jangan kamu telah mencuri ya. Aku tidak mau menerima harta haram” ucap Pak Raje.

    Maaf Tuan, saya tidak pernah mencuri dari siapa pun. Ini saya dapatkan dengan halal Ada seorang putri cantik yang baik hati memberikan Ini semua kepada saya.” Penyumpit menjelaskan. “Putri…? Siapa siapa?” tanya Pak Raje penasaran.

    Penyumpit lalu menjelaskan kejadian kemarin dan Pak Raje tertarik untuk mendapatkannya. Ia lalu meniru apa yang dilakukan penyumpit.

    Malam itu, ia melakukan aksinya. Namun, karena tak terbiasa bergadang, ia pun tertidur dan saat ia tertidur, puluhan babi hutan bertubuh besar menyerangnya bertubi – tubi hingga ia mati mengenaskan.

    Berita kematiannya pun menyebar hingga ke telinga penyumpit. Lalu penyumpit berusaha menolong pak raje dengan mengucapkan doa dan mantra khusus.

    Lalu, doanya dikabulkan dan tubuh pak raje kembal menyatu dengan sendirinya dan ia hidup kembali. Pak raje merasa malu dan meminta maaf kepada penyumpit.

    “Hai Penyumpit yang baik budi , maafkan atas segala kesalahanku. Aku telah berbuat salah kepadamu dan keluargamu. Sebagai rasa terima kasihku kepadamu, kamu kunikahkan dengan anakku,” ucap Pak Raje Dada Penyumpit.

    Beberapa hari kemudian, Penyumpit menikah dengan anak Derempuan Pak Raje. Sekarang Penyumpit menjadi orang kaya raya. la hidup bahagia dengan istrinya.

    Pak Raje pun menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong. Ketika usianya semakin lanjut Pak Raje meminta si Penyumpit menjabat sebagai kepala desa menggantikan kedudukannya.

    Legenda Pulau Senua

    Di negara kita, ada banyak sekali cerita rakyat yang beredar. Salah satunya adalah Legenda Pulau Senua. Dimana pada legenda ini ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil.

    Dikisahkan pada jaman dulu kala di Natuna, ada sepasang suami istri yang selalu didera dan selalu dihantam oleh kemiskinan.

    Kehidupan mereka tak pernah membaik sejak mereka menikah. Namun, karena ingin mengubah nasib mereka, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk merantau ke Pulau Bunguran yang terkenal akan kekayaan lautnya.

    Saat sudah tiba di pulau itu, sang suami bernama Baitusen bekerja sebagai nelayan sama seperti yang dilakukan oleh penduduk asli sana.

    Sehari – hari Baitusen mencari kerang dan siput untuk membiayai kehidupan sehari – hari mereka. Sang istri bernama Mai Lamah dan bekerja membantu suaminya membuka kulit kerang yang akan dijual sebagai bahan baku perhiasan.

    Baitusen dan Mai Lamah sangat suka tinggal di pulau Bunguran. Selain karena penduduknya yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kehidupan mereka juga menjadi lebih baik dibandingkan saat mereka menetap di Latuna.

    Baitusen bekerja dengan penuh semangat. Daerah tangkapan siput serta kerangnya juga semakin jauh. Semangat Baitusen dalam mengubah nasib keluarganya semakin besar sejak Mai Lamah mulai mengandung.

    Ia tidak ingin anaknya nanti menderita seperti yang pernah ia rasakan bersama istrinya. Suatu hari, tanpa sengaja Baitusen menemukan lubuk teripang yang berisi ribuan ekor teripang.

    Pada tetanggan menyarankan Baitusen untuk mengeringkan teripang – teripang tersebut lalu menjuanya kepada para pedagang yang datang dari China.

    Karena, harga teripang kering di China sangatlah mahal. Karena itulah para pedagang China bersedia membelinya dengan harga yang tinggi.

    Ternyata, apa yang dikatakan oleh para tetangganya itu bukanlah gurauan saja. Baitusen mendapatkan banyak uang hasil dari penjualan teripang keringnya. Dalam waktu sekejap, Baitusen dan Mai Lamah berubah menjadi orang kaya di Pulau Bunguran.

    Sejak saat itu, Baitusen tak pernah lagi mencari siput dan kerang, ia terus memburu teripang setiap harinya.

    Uang yang ia peroleh ia gunakan untuk membeli perahu yang lebih besar. Karena nasibnya yang mujur, Baitusen selalu memperoleh teripang dalam jumlah besar hanya dalam waktu singkat.

    Baitusen dan Mai Lamah terkenal sebagai pedagang teripang yang kaya raya. Kekayaan yang diperoleh suaminya ternyata membuat Mai Lamah lupa daratan.

    Bukan hanya dandanannya saja yang berubah seperti nyonya namun perangainya juga demikian. Ia bukanlah Mai Lamah yang dulu.

    Ia berubah menjadi seorang wanita yang sombong dan kikir. Mata hatinya seakan tertutupi oleh silaunya harta. Ia bukan hanya menolak tetangganya yang datang meminta bantuannya melainkan menghina mereka juga.

    Teguran Baitusen agar Mai Lamah merubah sikapnya sama sekali tak dihraukannya. Para tetangga mulai menjauh dari Baitusen dan Mai Lamah.

    Mereka juga enggan untuk sekedar bertegur sapa dengan suami istri itu. Walau begitu, Mai Lamah tak juga berubah.

    Ia justru merasa beruntung taka da lagi orang yang datang kerumahnya untuk meminta bantuannya. Hari hari berganti begitu cepat.

    Tak terasa kini tibalah waktu Mai Lamah untuk melahirkan. Baitusen merasa sangat bingung saat istrinya itu berteriak – teriak kesakitan.

    Segera saja Baitusen meminta pertolongan kepada para tetangga. Rasa sakit hati membuat tak seorangpun di Pulau Bunguran yang mau menolong, bahkan dukun beranakpun menolak untuk menolong Mai Lamah.

    Baitusen sungguh tak tega melihat Mai Lamah kesakitan. “Ayolah kita berangkat ke pulau seberang ,dik..”, katanya kepada Mai Lamah. “Abang dengar disana ada seorang dukun beranak…”, tambahnya lagi sambil memapah Mai Lamah.

    Meski sedang menahan rasa sakit yang luar biasa, Mai Lamah masih saja teringat akan harta bendanya. “Jangan lupa bawa semua emas kita, bang..”, katanya kepada suaminya. Baitusen menurut saja kata kata istrinya. Ia segera mengambil semua emas mereka dan kembali memapah Mai Lamah ke perahu.

    Baitusen mulai mendayung perahunya. Arus yang ada membuat perahunya sulit dikayuh. Terlebih lagi emas yang mereka bawa membuat perahu semakin berat.

    Semakin ke tengah laut, ombak yang datang juga semakin besar dan mereka mulai kehabisan tenaga. Air laut yang masuk ke dalam perahu membuat Mai Lamah menjerit ketakutan.

    “Awas bang… kita bisa tenggelam…”, teriaknya panik. Ketakutan Mai Lamah segera menjadi kenyataan. Air laut yang masuk ke dalam perahu semakin deras dan akhirnya membuat perahu itu tenggelam.

    Tubuh mereka berdua hanyut terbawa gelombang air laut dan terdampar di pantai Bunguran Timur. Angina kencang dan hujan deras membuat mereka sampai ke tepi pantai.

    Tak terduga kilat menyambar tubuh Mai Lamah yang sedang mengandung dan merubahnya menjadi batu.

    Seiring berjalannya waktu, batu jelmaan tubuh Mai Lamah bertambah besar dan menjadi sebuah pulau. Oleh masyarakat sekitar pulau yang terletak di ujung Tanjung Senubing, Bunguran Timur itu dinamakan Senua yang berarti satu tubuh berbadan dua.

    Saat ini Pulau Bunguran terkenal  sebagai pulau sarang burung walet yang konon merupakan jelmaan dari perhiasan yang dikenakan Mai Lamah.

    Cerita Legenda Putri Tujuh

    Indonesia memiliki banyak sekali cerita legenda yang tersebar hingga bisa dibilang semoa masyarakat di Indonesia pasti mengenal minimal 1 cerita legenda ini.

    Namun, ada pula beberapa legenda yang kurang dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas sehingga tak banyak yang tahu.

    Salah satunya adalah cerita legenda putri tujuh yang memiliki pesan moral yang sangat bagus terutama untuk para anak muda.

    Diceritakan, pada jaman dahulu kala ada kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang diperintahkan oleh seorang ratu bernama Cik Sima.

    Ia punya 7 orang putri yang sangat cantik dan dikenal dengan sebutan putri Tujuh. Putri bungsunya yang bernama Mayang Sari merupakan putri tercantik di antara keenam saudaranya itu.

    Ia juga dikenal dengan nama Mayang Mengurai. Suatu hari saat ketujuh putri sedang mandi di Lubuk Umai,

    Mereka tidak sadar bahwa Pangeran Empang Kuala sedang mengintip dari balik semak – semak. Sang pangeran sangat terpesona dengan kecantikan dari salah satu putri. Ia pun bergumam lirih. “Gadis cantik di lubuk Umal, cantik di Umal. Ya, ya d’umai, d’umal…“ gumam Pangeran Empang Kuala.

    Lalu, ia pun mengirim utusan untuk meminang sang putri. Pinangan itu disambut baik oleh Ratu Cik Sima. Namun, menurut adat, putri tertua lah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Utusan tersebut lalu kembali menghadap kepada sang Pangeran.

    “Ampun Baginda Raja! Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.”

    Mendengar laporan itu, sang Raja tak bisa terima. Sang Pangeran segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Keraaan Seri Bunga Tanjung.

    Maka pertempuran antara dua kerajaan itu tak dapat dielakkan lagi. Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat hingga sang ratu segera menyembunyikan ketujuh putrinya di sebuah gua di dalam hutan.

    Setelah itu sang Ratu kembali menghadapi pasukan Pangeran Empang Kuala. 3 bulan berlalu namun pertempuran tersebut masih belum selesai.

    Setelah memasuki bulan ke 4, rakyat Negeri Bunga Tanjung banyak yang tewas. Pasukan Pangeran Empamg Kuala juga telah sangat letih menghadapi pertempuran itu.

    Pasukan Sang Pangeran beristirahat dan berlindung di bawah pohon bakau di hilir Sungai Umal. Menjelang malam, secara tiba – tiba pasukan Pangeran Empang Kuala tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan.

    Melihat kenyataan itu, Sang Pangerap memerintahkan pasukannya segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

    Ratu Cik Sima yang mendengar kabar itu pun gembira dan bersyukur. Lalu keesokan harinya ia pergi ke hutan untuk melihat ketujuh putrinya.

    Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat kenyataan bahwa mereka semua sudah tak bernyawa karena kelaparan di dalam gua.

    Ia lalu teringat bahwa bekal makanan untuk anak – anaknya hanya cukup untuk tiga bulan saja sedangkan peperangan sudah terjadi selama empat bulan.

    Ratu Cik Ma pun lalu jatuh sakit karena kejadian ini lalu tak lama kemudian ia dinyatakan meninggal dunia.

    Dari cerita inilah, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambul dari kata d’umai, seperti yang pernah diucapkan oleh sang Pangerang Empang Kuala.

    Itulah cerita rakyat mengenai Putr Tujuh yang berakhir tragis. Namun, dari sini kita bisa mengetahui seberapa besar kasih sayang seorang ibu. Sayangnya, ia sedikit lalai dan terlambat saat itu. Menurut kalian, apa pesan moral yang bisa kalian ambil?

    Asal Mula Candi Pari Yang Jarang Diketahui

    Dahulu kala ada seorang lelaki tua yang tinggal di Gunung Penanggungan. Namanya adalah Kiai Gede Penanggungan.

    Ia dikenal sebagai orang yang sakti dan memiliki kekuatan gaib. Kiai Gede Penanggungan juga memiliki seorang putri yang cantik.

    Namanya adalah Dewi Walangangin. Walau sangat cantik, namun ia belum menikah. Itu sebabnya Kiai Gede Penanggungan berdoa siang dan malam untuk putrinya. Akhirnya, Tuhan Menjawab doanya, seorang pria muda dan tampan datang ke tempatnya.

    “Aku akan mengangkatmu sebagai muridku tetapi kamu harus menikahi putriku. Setuju?” jawab Kiai Gede.

    Jaka menghela nafas panjang. Lalu ia berkata “Ya, saya setuju. Saya akan menikahi putri Anda. ”Baik Dewi Walangangin dan Jaka Pandelegan menjalani pernikahan yang bahagia. Terutama Jaka, dia bahkan lebih bahagia.

    Kiai Gede Penanggungan mengajarinya banyak hal. Setelah beberapa tahun tinggal bersama Kiai Gede Penanggungan, kini saatnya pasangan itu meninggalkan gunung Penanggungan dan menemukan kehidupan baru sebagai suami istri.

    “Aku tahu kalian tidak bisa tinggal bersamaku selama-lamanya. Sebelum kalian pergi, ambil benih padi (pari) ini. Setiap kali orang meminta kepada Anda, berikan beberapa. Jangan sombong jika kami sudah menjadi orang kamu kaya.” Pesan Kiai Gede kepada Anak dan Menantunya.

    Jaka Pandelegan dan Dewi Walangangin pun berjanji akan mentaati pesan dari ayah mereka. Setelah itu, pasangan itu meninggalkannya dan membawa biji pari atau beras.

    Kemudian, di tempat baru, mereka menanam benih. Segera, tumbuh banyak pohon padi yang menghasilkan beras yang snagat banyak.

    Sekarang pasangan itu menjadi sangat kaya. Tetangga miskin datang kepada pasangan itu untuk meminta benih pari.

    “Tidak boleh! Jika kamu ingin makan, kamu harus bekerja keras seperti saya! “Kata Jaka Pandelegan.

    Lama kelamaan Kiai Gede Penanggungan mendengar kelakuan buruk anak dan menantunya. Jadi, ia memutuskan untuk mengunjunginya.

    Ia ingin mengingatkannya tentang janjinya. Kiai Gede Penanggungan segera memanggil nama mereka ketika dia tiba di sawah.

    “Jaka Pandelegan, kemarilah! Saya ingin berbicara dengan kamu.” Tapi Jaka mengabaikannya. Dia terus melakukan aktivitasnya.

    “Putriku, Dewi. Ini aku, ayahmu.” Tapi Dewi juga mengabaikannya. Kiai Gede Penanggungan benar-benar marah.

    Dia kemudian berkata, “Kalian berdua seperti Candi. Kalian tidak bisa mendengarkan saya.”

    Tepat setelah dia mengucapkan kata-kata itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Perlahan, Jaka dan Dewi berubah menjadi Candi. Karena candi berdiri di antara padi (pari), orang kemudian menamainya sebagai Candi Pari (Padi).

    Dari sini kita bisa mendapatkan pesan moral tentang kita sebagai manusia tidak boleh menjadi orang yang sombong.

    Apalagi jika kita memiliki kelebihan. Bantulan mereka yang lebih kurang mampu dan tanamlah benih karma yang baik.

    Selain itu, selalu ingatlah apa nasehat orang tua karena hal itu pasti akan sangat berguna untuk kalian dan kalian harus selalu mengingat nasehat mereka.

    Jika kalian memiliki kelebihan dan kalian sombong, hal ini lama kelamaan hanya akan mengakibatkan kerugian di masa yang akan datang.

    Karena itulah, taka da gunanya bersombong apalagi mengingat semua kekayaan yang kita dimiliki hanyalah titipan Tuhan belaka.

    Nantinya, yang akan kita bawa hanyalah karma – karma yang sudah kita lakukan selama kita masih hidup di dunia. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang ingin tahu lebih banyak mengenai berbagai legenda di Indonesia.

    Legenda Tujuh Kepala Ular Yang Harus Kamu Tahu

    Sebuah legenda yang beredar di Indonesia memang seringkali menarik perhatian kita. Apalagi, jika cerita – cerota tersebut menarik dan sangat mudah dipahami.

    Salah satunya adalah legenda Tujuh kepala ular yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang. Legenda ini bisa jadi merupakan kenyataan atau memang hanya sebuah “Legenda” belaka.

    Cerita ini bermula pada masa kerajaan Kutei Rukam di Bengkulu dimana hiduplah seorang Putra Mahkota Gajah Meram.

    Ia berencana akan menikahi seorang putri dari kerajaan Suka Negeri. Ia lalu meminta para rakyatnya untuk mempersiapkan pesta yang megah.

    Pada salah satu prosesi pernikaha, pengantin wanita dan pengantin pria sedang mandi di sebuah Danau bernama Danau Tes.

    Saat sedang asyik berenang, tiba – tiba saja sang pangeran dan juga snag putri tersebut menghilang dan tak terlihat.

    Karena khawatir dan kaget, semua tentara langsung melompat dan mencari putri dan pangeran tersebut di danau.

    Mereka sangat heran kenapa tiba – tiba putri dan pangeran menghilang begitu saja. Hal ini lalu diketahui oleh raja dan raja merasa sangat sedih.

    Ia lalu meminta semua prajurit yang ada untuk berenang dan mencarinya. Namun sayangnya mereka berdua tetap tidak ketemu.

    Lalu, belakangan kemudian ada seorang lelaki suci tua yang datang mendekati raja. Ia lalu bilang ke raja bahwa putri dan pangeran yang mereka cari telah diculik oleh ular berkepala tujuh.

    Ular tersebut merupakan raja ular dan memiliki banyak prajurit. Hanya ada satu orang yang bgisa menyelamatkan mereka, yaitu pemuda dengan keterampilan yang hebat dalam seni bela diri dan juga kekuatan gaib.

    Pria muda yang kakek tersebut maksud ternyata merupakan putra bungsu sang raja bernama Pangeran Gajah Merik.

    Ia juga diketahui merupakan salha satu murid dari kakek tersebut dan raja yang mendengar hal itu sangat tersentuh karena tahu bahwa Gajah Merik bersedia mencari hingga menemukan kakak laki – laki dan kakak perempuan iparnya.

    Orang suci atau kakek tersebut juga memberi tahu Pangeran Gajah Merik agar mereka tidak takut kepada para bangsa ular.

    Pangeran tersebut lalu langsung masuk ked alam danau dan melawan para tentara ular dengan gagah berani.

    Tak ada seekor ular pun yang bisa melawannya karena ia sangat kuat. Ia bahkan bisa membunuh tentara ular tersebut dengan sangat mudah.

    Setelah itu ia pun berhasil bertemu dan berhadapan langsung dengan sang raja ular. Raja ular atau ular berkepala tujuh itu sangat marah karena mengetahui semua tentaranya mati di tangan pangeran Gajah Merik.

    “Hei, kamu manusia! Mengapa kamu membunuh semua prajuritku?” tanya raja ular.

    “Mereka berusaha menghentikanku. Aku ingin membebaskan kakak laki-lakiku dan istrinya.”

    “Aku akan membebaskan mereka. Tapi kamu harus melakukan dua hal. Pertama kamu harus membuat prajuritku yang mati hidup lagi. Dan kedua, kamu harus mengalahkan aku tentu saja. Hahaha.”

    Dengan kekuatannya, Gajah Merik lalu menyentuh ular yang mati dan sesuatu yang ajaib terjadi. Ular yang mati tersebut hidup lagi kemudian raja ular serta pangeran berkelahi.

    Raja ular hampir membuhnuh Gajah Merik dengan kekuatannya. Namuhn, karena Gajah Merik memiliki kesaktian yang lebih, ia memenangkan pertarungan setelah berkelahi selama 7 hari.

    Gajah Merik lalu membiarkan para ular dan rajanya itu pergi dan membawa kakaknya serta istri kakaknya kembali ke istana.

    Raja yang melihat mereka kembali snagat senang dan berencana menjadikan kakaknya, Gajah Meram menjadi raja berikutnya.

    Namun Gajah Meram menolaknya dan berkata bahwa Gajah Merik atau adiknya lah yang lebih pantas menjadi raja berikutnya.

    Gajah merik setuju untuk menjadi raja berikutnya dan meminta ayahnya untuk membiarkan para ular menjadi prajuritnya.

     

    Itulah cerita legenda mengenai ular berkepala tujuh. Semoga bermanfaat.

    Legenda Nusantara: Loro Jonggrang

    Siapa sih yang tak pernah mendengar nama Loro Jonggrang. Loro Jonggrang dikisahkan pada jaman dahulu dimana ada sebuha kerajaan besar bernama Prambanan.

    Rakyat di sana hidup tentram dan damai. Namun, kerajaan ini diserang serta dijajah oleh negeri Pengging.

    Ketentraman kerajaan ini lalu terusik dan para tentara tidak bisa menghadapi serangan pasukan Pengging.

    Akhirnya, Prambanan dikuasai oleh Pengging dan dipimpihn oleh Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso sendiri terkenal sangat kejam dan suka memerintah dengan kejam.

    “Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!”, ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya.

    Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita.

    “Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku,” pikir Bandung Bondowoso. Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang.

    “Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?”, Tanya Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.

    “Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya”, ujar Loro Jongrang dalam hati. “Apa yang harus aku lakukan ?”.

    Loro Jonggrang bingung dan pikirannya berputar – putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar serta membahayakan keluarga dan rakyatnya.

    Untuk mengiyakan juga tak mungkin karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.

    “Bagaimana, Loro Jonggrang ?” desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. “Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya,” Katanya.

    “Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”. “Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah.

    “Seribu buah?” teriak Bondowoso. “Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah.

    Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya.

    “Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!”, kata penasehat. “Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!”

    Setelah perlengkapannya siap, Bandung Bondowoso pun berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar – lebar.

    “Pasukan jin, Bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso.

    “Apa yang harus kami lakukan Tuan ?”, tanya pemimpin jin.

    “Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.

    Sementara itu, Loro Jonggrang diam – diamn mengamati dari kejauhan. Ia cemas karena mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan Jin.

    “Wah, bagaimana ini?”, ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami.

    “Cepat bakar semua jerami itu!” perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung.

    Dung… dung… dung! Semburat warna merah memancar ke langit dan diiringi oleh suara hiruk pikuk sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.

    Pasuka jin mengira fajar sudah datang. “Wah, matahari akan terbit!” seru jin. “Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari,” sambung jin yang lain.

    Para jin lalu berhamburan dan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso yang melihatnya heran.

    Paginya, Bandung mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. “Candi yang kau minta sudah berdiri!”. Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!.

    “Jumlahnya kurang satu!” seru Loro Jonggrang. “Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”.

    Bandung Bodnowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. “Tidak mungkin…”, kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang.

    “Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!” katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang.

    Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.

    Legenda Situ Bagendit Dari Indonesia

    Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan. Mulai dari kekayaan alam, buatan, kekayaan budaya, ras, suku, hingga legenda nya yang terkenal sangat banyak.

    Legenda yang ada di Indonesia juga sudah diketahui oleh hampir setiap warga Indonesia bahkan dijadikan sebagai kisah rakyat.

    Karena itulah, banyak sekali warga Indonesia yang mungkin sudah mengetahui banyak kisah legenda di Indonesia.

    Setiap kisah juga memiliki pengajarannya masing – masing serta memiliki kesan tersendiri. Tak terkecuali dengan legenda Situ Bagendit.

    Dikisahkan pada zaman dulu di sebuah desa yang berada di Kota Garut, Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan yang kaya raya bernama nyai Bagendit.

    Kekayaannya yang melimpah ruah ini ia dapatkan dari warisan suami nya yang telah meninggal dunia.

    Dengan kekayaannya yang snagat melimpah ini, menyebabkan ia menjadi orang yang kikir, sombong, dan semena – mena dengan rakyat kecil.

    Karena merasa paling kaya di desa itu maka ia pun seringkali mengadakan pesta besar – besaran, pesta ini dilakukan hanya untuk memamerkan harta benda dan perhiasan yang ia miliki kepada warna di sekitar.

    Walaupun ia terkenal sangat kaya raya namun ia tak pernah mau membantu warga sekitar jika warga sekitar meminta bantuan dari nya.

    Warga sekitar tak suka dengan sikap nyai bagendit. Namun mereka tak bisa berbuat apa – apa karena mereka hanyalah warga biasa.

    Suatu hari saat sedang pesta besar – besaran berlangsung, ada seorang pengemis yang datang dengan pakaian compang – camping, celana lusuh.

    Ia lalu berkata kepada nyai “Nyai, tolong beri hamba makanan sedikit saja,hamba lapar sudah beberapa hari belum makan” kata pengemis tersebut.

    Karena merasa terganggu dengan pengemis itu Nyai Bagendit pun sangat marah dan mengusir pengemis itu dengan kasar, “Pergilah kau dari rumahku, pengemis kotor!!!” Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sangat sedih.

    Suatu hari ada kejadian yang aneh di desa tersebut dimana di jalan ada tertancap sebuah tongkat, karena merasa penasaran warga pun mencoba untuk mencabut tongkat iti, namun tidak bisa.

    Mereka berpikir untuk mencabutnya beramai – ramai maka mereka pun melakukannya namun tetap saja tongkat tersebut tak bisa tercabut.

    Sampai datanglah pengemis yang sebelumnya diusir oleh nyai gendi tsaat itu. Ia mencoba mencabut tingkat tersebut dan tongkat tersebut berhasil tercabut dan mengeluarkan air.

    Tanpa ia sadari air pun keluar semakin deras karena warga takut tenggelam sehinhga mereka mencari tempat yang lebih tinggi agar aman.

    Kareba ketamakan nyai bagendit itu ia tidak mau sama sekali meninggalkan rumah nya berisi banyak harta benda dan perhiasan. Sampai akhir nya ia pun tenggelam dengan harta,rumah beserta isi nya.

    Pada akhir nya Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’.

    Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata nyai bagendit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai bagendit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air.

     

    Itulah kisah mengenai Situ Bagendit. Dari sini kita bisa mengetahui dan paham bahwa kita tak boleh menjadi orang yang sombong dan kikir.

    Karena, bagaimana pun juga semua pemberian itu hanyalah sebuah titipan dari Tuhan yang tak pantas untuk kita pamerkan. Apalagi jika sampai tak mau membantu yang lain. Semoga artikel ini bermanfaat.

    Cerita Dongeng Lutung Kasarung

    Di jaman dulu, hiduplah seorang raja dengan 7 putrinya yang cantik di sebuah kerajaan bernama Pasir Batang.

    5 dari 7 putrinya tersebut sudah menikah. Hanya 2 putri saja yang belum, nama mereka adalah Purbararang dan Purbasari.

    Namun, Purbararang yang merupakan kakak dari Purbasari sudah bertunangan dengan seorang Raden yang paling tampan di wilayah tersebut.

    Purbararang memiliki sikap yang sangat jauh berbeda dengan Purbasari. Ia merupakan putri yang angkuh, sombong, dan kasar.

    Sedangkan Purbasari memiliki sifat yang suka menolong, baik hati, lembut, dan cerdas. Ia bahkan memiliki wajah yang sangat cantik.

    Raja yang sudah tua suatu hari sedang berpikir mengenai siapa yang nantinya akan menggantikan tahta nya di bangku kerajaan.

    Karena Purbararang merupakan putri Sulungnya, seharusnya ia memilih Purbararang sebagai adat dari kerajaan.

    Sayangnya, putrinya satu ini memilii sifat yang tidak baik jika ditunjuk untuk menjadi pemimpin sehingga ia sangat ragu.

    Purbararang memiliki sikap yang angkuh dan pasti akan mengacaukan keadaan karena kesombongannya itu. Lalu, ia berpikir bahwa Purbasari lebih pantas menduduki tahta karena sifatnya yang cerdas dan bijaksana.

    Lalu, ia menunjuk Purbasari untuk menjadi ratu selanjutnya dalam memimpin kerajaan dan semua orang setuju atas kebijakan raja.

    Purbararang yang mendengar kabar ini tentu saja sangat murka. Ia lalu bersama dengan tunangannya pergi ke nenek sihir untuk membuat rencana.

    Ia membuat tubuh Purbasari dipenuhi dengan bercak hitam yang gatal dan bau. Raja yang melihat keadaan putri Purbasari pun kaget dan membawanya ke berbagai tabib namun belum juga bisa disembuhkan.

    Lalu, Purbararang bersama dengan tunangannya menghasut raja untuk membuang Purbasari ke hutan dan berpendapatn bahwa tak mungkin Purbasari bisa memimpin kerajaan dengan keadaannya sekarang.

    Raja dengan berat hati dan kesedihan yang mendalam akhirnya berhasil dipengaruhi dan menyuruh Patih kepercayaannya mengantar putri Purbasari serta membuatkan pondok yang kokoh.

    Purbasari pun tinggal di hutan namun ia tidak sendiri karena selalu ditemani oleh hewan-hewan lainnya, bahkan, hewan buas sekalipun juga ikut melindunginya.

    Ada satu kera bernama Lutung Kasarung yang selalu menemaninya, memberikannya bunga, dan memberikan buah dan umbi umbian untuk dimakan oleh putri.

    Suatu hari, sang putri menangis karena merindukan ayahnya. Melihat hal ini, Lutung Kasarung pun bertapa dan meminta pertolongan kepada dewa. Dewa lalu memberikannya sebuah telaga kecil dengan air yang sangat harum serta jernih.

    Lutung lalu meminta putri untuk mandi dan berendam di telaga tersebut. Putri awalnya sedikit kaget karena Lutung bisa berbicara Bahasa manusia. Namun, ia yakin dan mengikuti permintaan lutung.

    Ia lalu berendam dan perlahan penyakit yang menempel di kulit serta wajahnya hilang bahkan, kulitnya menjadi lebih cerah, segar, serta halus dibanding sebelumnya.

    Kecantikannya kembali dan membuat lutung semakin terpesona. Kabar kesembuhan putri pun menyebar dengan cepat dan sampai ke istana.

    Purbararang yang mendengar hal itu marah dan mendatangi kediaman purbasari bersama tunangannya. Tak lama, raja pun menyuruh Patih kerajaan untuk melihat juga keadaannya.

    Raja sangat senang dan ingin membawa putri nya yang paling ia sayangi itu kembali. Awalnya putri Purbasari menolak, namun karena kerinduannya kepada ayahnya, ia bersedia kembali.

    Purbararang takut adiknya itu mengambil kembali tahtahnya dan mengajaknya berduel dengan rambut siapa yang paling panjang. Purbasari menang.

    Ia lalu memberikan tantangan kedua dimana mereka harus beradu tunangan mana yang lebih tampan. Ia yakin bahwa ia akan menang kali ini karena tunangannya memang merupakan yang paling tampan di wilayahnya.

    Purbasari lalu menggandeng lutung dan ditertawakan oleh kakaknya. Tak lama kemudian, lutung berubah menjadi seorang dewa yang gagah dan tampan sehingga mengalahkan ketampanan tunangan Purbararang. Purbasari lalu menang dan menjadi ratu di kerajaan tersebut.

     

    Itulah kisah lengkap dari legenda Lutung Kasarung. Semoga bermanfaat.

    Cerita Legenda: Batu Menangis

    Pada jaman dahulu di dataran Gayo, hiduplah seorang putri bernama Putri Pukes. Saat itu ia sangat menyukai pangeran dari kerajaan lain dan berniat mendatanginya.

    Orang tuanya awalnya sangat tidak setuju dan tidak memperbolehkan. Namun, mereka akhirnya mengizinkan sang putri untuk pergi dan menikah karena kegigihan sang putri.

    Sang putri pun menikah dan jika menikah, ia harus mendatangi suaminya dan tinggal bersamanya. Ia lalu pamit kepada kedua orang tuanya.

    Orang tuanya tentu saja sangat sedih karena harus melepas putri mereka yang mereka sayangi. Mereka lalu menyuruh pengawal untuk pergi bersama putrinya.

    Namun, mereka meminta Pukes untuk tidak menoleh kebelakang setelah ia melangkah keluar sekalipun. Itulah pesan terakhir orang tuanya.

    Sang putri lalu berjalan keluar istana dan pergi bersama dengan para pengawal. Di jalan ia terus teringat orang tuanya dan ia sangat kangen dengan mereka.

    Karena kesedihannya yang sangat mendalam, ia pun tak sengaja menoleh kebelakang untuk melihat rumahnya itu.

    Tak lama kemudian, hujan lebat dan berpetir datang dan membuat mereka terpaksa berteduh ke dalam sebuah gua.

    Putri berdiri pada sudut gua untuk menghangatkan tubuhnya karena kedinginan di dalam gua. Lalu, ia tak lama merasa tubuhnya menjadi berat dan keras.

    Ternyata, saat ia lihat dan sadari, tubuhnya perlahan berubah menjadi batu. Ia kaget dan langsung menangis.

    Ia juga sangat menyesal karena telah melawan perkataan orang tuanya yang tak mengizinkan dia untuk menoleh kebelakang selama ia berjalan.

    Lalu, hujan mulai reda dan mereka semua telah cukup beristirahat. Para pengawal lalu memanggil sang putri agar melanjutkan perjalanan.

    Mereka berkali – kali memanggil sang putri namun sang putri tidak menjawab dan tidak ada terdengar suara sang putri sama sekali.

    Mereka lalu mendatangi tempat dimana sang putri berdiri sambil terus memanggilnya. Namun ia hanya diam saja.

    Mereka lalu mendekatinya dan melihat dengan jelas. Lalu, mereka terkejut karena sang putri ternyata telah berubah mengeras menjadi sebuah batu.

    Sampai sekarang, batu tersebut masih bisa kalian lihat di Kalimantan Barat. Bentuknya menyerupai manusia dengan kepala dan sanggul yang menyerupai sang putri.

    Namun, pada bagian bawahnya kaian bisa melihat bentuknya lebih membesar. Masyarakat percaya bahwa ini dikarenakan sang putri terus menangis.

    Tangisannya itu menumpuk pada bagian bawah tubuhnya sehingga membuatnya besar. Selain itu, hujan deras juga membuat adanya danau di kawasan itu. Danau tersebut lalu dipanggil oleh masyarakat sebagai Danau Laut Tawar.

    Namun, ada pula cerita lain yang menyebutkan bahwa batu ini berasal dari seorang gadis durhaka yang sangat cantik.

    Ia menganggap ibunya sebagai pembantu dan selalu menjawab kepada siapapun yang bertanya kepadanya, bahwa ibunya merupakan pembantu.

    Ibunya lalu marah, sedih, dan kecewa. Ia berdoa kepada tuhan untuk menghukum anaknya yang durhaka ini.

    Tuhan yang mendengarnya pun menghukum gadis tersebut dengan menjadikannya batu. Gadis tersebut lalu menangis terus menerus sambil meminta maaf.

    Namun, hal itu sudah terlambat. Dan sebelum kepalanya berubah menjadi batu, ia masih menangis sehingga saat menjadi batu pun ibunya masih bisa melihat bahwa ia merintikkan air mata.

     

    Dari kedua dongeng ini, kita bisa belajar bahwa orang tua merupakan orang yang harus kita sayang dan hormati.

    Bagaimanapun mereka, mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk kita. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

    Cerita Rakyat Legenda Ikan Duyung

    Pada zaman dahulu, hiduplah suami istri hidup bahagia yang dikaruniai oleh 3 anak kecil dan memakan nasi dengan ikan pada hari itu.

    Masing-masing dari anggota keluarga mereka telah terbagi rata bagiannya dari nasi hingga ikannya dan rupanya ikan tersebut tidak habis dimakan oleh mereka. Sang suami pun menitip pesan pada istrinya untuk menyimpan ikannya sebelum berangkat ke kebun untuk makan nanti sore.

    “Istriku, tolong ikan-ikan yang masih tersisa bisa disimpan untuk kita makan sore nanti”. Si istri pun menjawabnya “Baik, pak” setelah itu.

    Ketiga anak tersebut dengan istrinya pun pada siang harinya makan bersama dan secara tiba-tiba anak yang bungsu ini menangis dan menginginkan ikan yang disimpan di lemari.

    Si bungsu pun menangis dengan keras karena tidak diberikan oleh ibunya yang dititipkan pesan oleh ayahnya untuk makannya nanti sore dengan pengertian.

    Sang ibu pun tidak tega dan memberikan sisa ikan tadi kepada si bungsu agar tidak menangis terus-menerus lagi.

    Sepulangnya si ayah dengan rasa lapar dan lelahnya dari pekerjaannya selama seharian telah membuatnya tidak sabar ingin makan sore dengan ikan yang dihidangkan oleh si ibu.

    Namun, dari hidangan tersebut pun si ayah tidak melihat ada satupun sisa ikan tadi pagi dan mukanya langsung berubah menjadi marah dan bertanya “Bu, mana sisa ikan tadi pagi?”.

    Si ibu pun menjawab dengan nada lembut “Si bungsu meminta makan ikan tersebut tadi siang dan menangis tidak berhenti, maaf ayah”.

    Sang ayah pun tidak peduli dengan apa yang dilakukannya dan kelakuakn anak bungsunya hingga dengan teganya menyuruh si istri dipaksa untuk mencari ikan di laut dan tidak boleh pulang jika tidak mendapat ikan yang banyak.

    “Ibu harus mencari ikan sekarang dan tidak boleh pulang jika tidak mendapaatkan ikan yang banyak” Kata si ayah tanpa adanya rasa belas kasihan.

    Dengan rasa kecewa dan sedih pun sang ibu pergi meninggalkan ketiga anaknya, apalagi si bungsu yang masih menyusui dan si ibu tidak pernah kembali ke rumah.

    Ketiga anak tersebut pun sangat merindukan ibunya dan mencari ke pinggir laut ibunya pergi. Mereka memanggil-manggil ibunya berkali-kali dan benar-benar tidak ada satu orang pun disana membuatnya mustahil untuk menemukan ibunya.

    Si ibu pun secara tiba-tiba muncul dari laut dan segera menyusui si bungsu dan berpesan kepada mereka untuk kembali ke rumah. Ibu pun berkata, tidak lama lagi akan pulang, namun ibu pun belum juga pulang hingga malam.

    Karena sangat cemas, mereka pun kembali lagi ke laut keesokan harinya dan memaksanya untuk pulang kerumah karena si bungsu ingin menyusui dari teriakan oleh si sulung di pinggir laut.

    Setelah itu, ibunya pun muncul lagi dari laut dan menyusui si Bungsu dan membuat mereka merasa aneh karena terlihat adanya sisik di tubuh ibunya dan mereka pun menjadi takut.

    Si ibu pun menghampiri dan mengatakan “Ibu akan menyusuimu” dan si bungsu pun melawan “Tidak! Kau siapa? Kau bukanlah ibuku!”.

    Sang ibu pun mengatakan kalau ia adalah ibu dari mereka dan si sulung tetap tidak percaya hingga meninggalkan tepi laut bersama adiknya.

    Mereka pun terus menghampiri pantai dan tetap memanggil si ibu. Setiap dipanggilnya ibunya pun selalu muncul dengan tubuh memiliki sisik ikan dan telah menjadi ikan duyung.

    Danau Toba dan Cerita Yang Harus Kamu Tahu

    Danau Toba dan Cerita Yang Harus Kamu Tahu – Danau Toba  terletak di Provinsi Sumatera Utara. Menurut legenda awal terbentuknya Danau Toba adalah terbongkarnya rahasia dari seorang putri jelmaan ikan mas.

    Nah, untuk kalian yang penasaran dengan legenda danau toba, yuk simak di bawah ini.

    Legenda Danau Toba Dan Cerita Hikayat Yang Sangat Bagus

    Legenda Danau Toba

    Ada seorang petani yang sehari-harinya digunakan untuk bercocok tanam di desanya petani tersebut bernama Toba. Terkadang toba juga pergi memancing ikan untuk dimakan dan dijual. Pada suatu hari, petani ini sedang pergi mencari ikan. Dan dia sangat beruntung sekali bisa mendapatkan ikan mas yang besar dan itu merupakan jackpot. Akan tetapi, Toba merasa sedikit aneh pada ikan yang ia tangkap tersebut.

    Tak lama setelah ia menangkap ikan tersebut secara mengejutkan sang ikan telah berubah menjadi sosok perempuan dengan wajah dan paras yang cantik. Kemudian perempuan itu mengatakan kepada Toba bahwa ia adalah seorang putri yang terkutuk. Dan putri tersebut berterima kasih karena pertolongan Toba ia dapat terbebas dari kutukannya dan putri itu bersedia menjadi istri Toba. Akan tetapi, ada syaratnya yaitu Toba dilarang untuk membicarakan asal-usul sang putri.

    Akhirnya Toba dan sang putri ikan telah menikah dan memiliki anak yang sedikit nakal dan rakus dalam makanan. Anak tersebut bernama Samosir. Toba terkejut saat ia melihat makanannya telah sedikit dalam kondisi lapar. Sang ayah pun sangat marah atas kelakuan si Samosir dan lupa atas janji dengan istrinya. “Samosir anak yang tak tahu diuntung” ucap Toba.

    Memang ketika itu banyak orang yang mencoba bermain games mesin slot ketika di masyarakat terjadi peristiwa legenda Danau toba tersebut. Mereka awalnya memainkan judi slot online di situs judi slot terbaik dan terpercaya no 1 yang diketahui dari cerita para masyarakat sekitarnya.

    Suatu hari, sang ibu meminta Samosir untuk mengantarkan makanan untuk Ayahnya. Saat ditengah perjalanan Samosir memakan makanan untuk ayahnya tanpa pikir panjang, karena ia kelaparan dijalan. Samosir berlari pulang bersedih dan mengadu pada ibunya. Dan dalam waktu singkat telah terjadi bencana karena Toba yang telah melanggar sumpahnya kepada sang putri dan dalam sekejap Sang putri bersama dengan Samosir menghilang dan keluarlah semburan air yang sangat deras dari tempat menghilangnya mereka.

    Semburan air tersebut memenuhi lembah yang dihuni oleh Toba sampai menjadi sebuah danau yang sangat besar. Dan akhirnya danau tersebut dinamakan sebagai danau Toba. Dan muncul pulau-pulau di bagian tengah danau yang dinamakan sebagai Pulau Samosir. Legenda Danau Toba selalu mengemuka saat terjadi bencana di daerah Danau Toba tersebut. menangkap ikan mas akan menimbulkan bencana, begitulah yang diperacaya oleh masyarakat sekitar Danau Toba

    Ikan mas bukanlah fauna endemik di Danau Toba Menurut Profesor Gadis Sri Haryani. Dengan luas 1.124 km bukanlah disebut ikan endemik melainkan ikan batak. Menurut International Union for the Conservation of Nature (IUCN) ikan yang jenis ini dikategorikan sebagai jenis yang terancam hampir punah.

    Menurut ilmiah proses terbentuknya Danau Toba pernah diterbitkan pakar geologi pada tahun 1991 yang dimana Danau Toba sebenarnya awal terbentuk adalah akibat dari letusan Gunung Toba ribuan tahun lalu.

    Kemudian dari letusan gunung toba tersebut membentuk kaldera atau kawah yang sangat luas sekali. Pada letusan Gunung Toba yang ketiga kaldera tersebut membentuk Danau Toba. Danau Toba ini memiliki keliling sekitar 428 km. sementara kedalamannya sampai mencapai 508 meter dalamnya dan kedalaman rata-rata 228 meter dalalmnya. Baca juga artikel berikutnya mengenai legenda keong mas

    Danau Toba merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi dan berada di provinsi Sumatra Utara, Indonesia dan menjadi tempat masyarakat sekitar menjalankan hidup mencari nafkah dan makanan dengan pengembangan perikanan di sekitar. Danau Toba dan isinya tetap harus diberikan perlindungan supaya tetap terjaga dan menjadikannya sebagai bentuk Legenda Danau Toba.

    MENGULAS CERITA TENTANG MALIN KUNDANG

     

     

    Indonesia memiliki sejumlah sejarah yang sangat kaya, dimana terdapat banyak cerita-cerita legenda jaman dahulu yang konon katanya pernah terjadi. Di setiap daerah di Indonesia pun memiliki cerita legenda yang berbeda-beda, percaya atau tidak percaya namun cerita ini merupakan mitos namun di percaya oleh orang sekitar.

    Salah satu contohnya yaitu tentang Malin Kundang. Ada yang udah pernah dengar bagaimana ceritanya? Kali ini kita akan bahas siapa sih Malin Kundang yang sangat terkenal pada jaman dahulu? Simak ceritanya ya!

    Malin Kundang merupakan cerita legenda yang berasal dari Sumatera Barat yang mengisahkan pada seorang anak laki-laki yang durhaka kepada sang ibu lalu dikutuk menjadi batu lantaran tidak nurut. Malin Kundang ini adalah anak tunggal yang tinggal bersama ibunya bernama Mane Rubayah, yang seorang janda. Pada waktu itu, Sang ibu sangat sayang kepada Malin Kundang dan berharap kelak ia menjadi anak yang penurut dan baik.

    Karena sudah terlampau tua, Mande Rubayah hanya bekerja sebagai penjual kue untuk menghidupi diri dana anaknya. Suatu ketika, Malin pernah jatuh dan hampir meninggal namun ternyata bisa diselamatkan oleh ibunya. Semenjak dari situlah mereka saling menyayangi satu sama lain.

    Ketika sudah di usia remaja, Malin kundang pergi merantau dan pamitan kepada ibunya agar bisa mengubah hidupnya di kemudian hari. Akhirnya ia pun pergi dengan menggunakan kapal besar milik seorang saudagar. Saat sedang perjalanan, kapalnya itu diserang oleh bajak laut sehingga semua barang yang ada di dalamnya dirampas, bahkan banyak penumpang dan petugas kapal yang di bunuh, untungnya ia bisa selamat. Tak lama kemudian, kapal itu berhenti pada suatu pulau dan mulailah ia memulai kehidupannya dengan bekerja dengan giat. Akhirnya saat sudah kaya dan memiliki rezeki yang cukup, ia memutuskan untuk menikah.

    Setelah sekian tahun berlalu dan telah melakukan pelayaran, akhirnya Malin pun kembali ke tanah kelahirannya. Kedatangannya pun disambut ibunya dengan excited sembari melihat ciri-ciri anaknya untuk memastikan apakah benar yang datang itu Malin Kundang atau bukan. Saat sudah mulai mau berkomunikasi, Malin Kundang ternyata marah ketika melihat ibunya sangat lusuh, kotor seperti tidak terurus karena memang sudah makin tua dan jalannya pun mulai membungkuk. Sang istri pun ikut-ikutan melihat dengan jijik, karena tak menyangka bahwa Malin Kundang memiliki ibu yang seperti itu.

    Malin pun sempat mendorong ibunya ke tanah saat sedang ingin memeluknya sembari berkata ‘dasar wanita gila, kamu bukan ibuku’. Lalu Mande terkapar sendirian di pasir, sementara orang-orang sekitar pulang ke rumahnya masing-masing. Ia hanya bisa meratapi dengan menangis dan bersedih karena tidak menyangka ankanya bisa berubah. Melihat kelakukan anaknya seperti itu, ibunya sangat marah dan berdoa dalam hati dengan mengangkatkan tangan ke langit dan berkata ‘Tuhan, jika itu benar anakku maafkan perbuatannya dan mohon beri keadilanmu, aku sumpahi dia menjadi batu’.

    Seketika langit di pantai itu berubah menjadi gelap dan turun hujan yang sangat deras dan lebar. Tak lama kemudian, badai pun datang dan menyerang kapal yang sedang dinaiki oleh Malin Kundang. Kapalnya hancur dan kepingannya terbawa ombak hingga sampai ke pantai dimana ia lahir. Keesokan harinya, di pinggir kapal tersebut terdapat sebuah batu yang menyerupai manusia dan batu itulah yang disebut sebagai Malin Kundang karena telah durhaka oleh ibunya.

    Nah itulah kisah legenda yang sangat terkenal di Indonesia, sebenarnya banyak pesan yang diambil dari cerita tersebut seperti bagaimanapun kondisi orang tua kita, kita harus tetap menyayanginya sampai kapanpun dan jangan sekali-sekali durhaka kepada orang tua, karena doa orang tua terkadang suka dijabah.

    Sebenarnya ada banyak banget versi cerita malin kundang, salah satu versi cerita paling lucu dari malin kundang menurut saya adalah Maling Kundang di kutuk menjadi batu dikarenakan ketagihan main judi bola online di Bandar Sbobet Terpercaya Indonesia. Uang Ibunya di ambil hingga tidak mampu membayar uang kontrakannya. Setelah ibunya mengetahui kelakuannya, ibunya tidak bisa menahan emosinya dan mengutuk Malin Kundang menjadi batu.